Cerpen Sulaiman Sambas (Analisa, 02 Juni 2019)

Bunyi Guruh di Kejauhan ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw
Bunyi Guruh di Kejauhan ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

Persis seperti keberangkatannya dulu, menuju  perjalanan yang jauh, perjalanan maha panjang. Tanpa setetes air mata seorang pun melepasnya pergi.

Ketika dia tersungkur kejang di parit kota, diguyur alkohol tandas dari botol masih erat tergenggam di tangannya yang kaku membiru. Matahari telah padam buat selamanya dalam bola matanya pecah terbakar, menghanguskan seluruh dirinya. Seluruh hidupnya.

Sempat juga satu hari satu malam dia terlantar di kamar mayat rumah sakit dilintas-lintasi angin. Tak siapa pun yang ditunggu datang menjenguknya. Tiada sesiapa kehilangan atas kematiannya. Seakan dia hanya sendiri, sebatang kara tanpa sanak saudara. Untuk kemudian dia pun dibaringkan di liang lahat makam tanah perkuburan orang-orang yang malang.

Sempurnalah kesendiriannya dicekam kelam abadi. Petugas tanah perkuburan menimbun tanah merah dan memancangkan tonggak tanda pusara tanpa nama. Upacara pemakaman berjalan singkat dan selebihnya tinggal lengang. Angin senja mengantarnya perlahan ke dalam kelam.

Sampai suatu masa kebebasan sementara itu tiba. Dia pun terpana bangun dirangkul sepinya sendiri. Orang-orang ramai berdatangan ziarah di setiap perkuburan. Hatinya jadi semakin perih, karena tak seorang juga yang diharapkannya menabur kembang, menyiramkan air di pusaranya.

Tak ada sepaling wajah pun yang dikenalnya akan menekur kepala membacakan doa di makamnya. Betapa dukanya dia. Betapa jauhnya dia terbuang dari kampung halaman, terlempar dari tengah keluarga yang tersia.

***

Tiba-tiba dia merasa rindu pada keluarganya, kepada perempuan jandanya dulu. Segera dikunjunginya perempuan yang berdiam di sebuah rumah petak sewaan, jauh di pinggiran kota. Di tengah ruang lengang kamar sempit, dia dapati perempuan bersimpuh khusuk dalam doanya di atas sajadah. Wajah perempun itu setengah tengadah.

Begitu penuh harap. Di ujung lidahnya menggeletar tubuh dan tangan terguncang. Air matanya tumpah menderas, memelas hati memandangnya.

Advertisements