Cerpen Rachmat Faisal Syamsu (Fajar, 02 Juni 2019)

Apang Panas ilustrasi Fajarw.jpg
Apang Panas ilustrasi Fajar

Pukul tiga lebih tiga puluh menit dinihari. Itulah penunjukan waktu yang selalu membangunkan ibu setiap hari. Tidak ada waktu libur baginya. Justru jika hari sedang libur, ibu biasa bangun lebih awal. Ibu selalu menyempatkan salat tahajjud beberapa rakaat yang diakhiri dengan witir. Setelah itu barulah dia memulai aktivitas bersama kerumunan bahan-bahan kue, seperti gula merah, tepung beras, tepung terigu, pandan, santan kelapa, hingga kelapa parut. Pukul enam pagi tepat, bahan-bahan kue itu telah padu menjadi satu bentuk kue khas dalam wadah kukusan besar. Kue apang panas.

“Nak, sebelum memulai aktivitas, minta ijin dulu sama Allah, semoga diberikan ridho, dan rejeki. Tidak perlu banyak asalkan cukup untuk kita.” Begitu uraian ibu, ketika aku bertanya perihal kebiasaannya di waktu dini hari sebelum memulai aktivitas bersama kerumunan bahan-bahan kue.

***

Apang panas dermawan. Begitu tulisan yang tertera di spanduk depan rumah kami. Spanduk berukuran sederhana tiga kali satu setengah meter yang di sudut kanan bawah dihiasi gambar apang bertabur parutan kelapa, lengkap dengan nomor telepon ibu. Siapa tahu ada yang ingin memesan kalau ada acara syukuran dan lainnya, jelas ibu perihal nomor telepon tersebut. Selama ini, semua pertanyaanku perihal jualan, selalu dijawab ibu dengan lengkap. Kecuali satu, tentang kata dermawan yang melekat setelah nama kue apang panas jualan ibu. Apang panas dermawan.

Ibu memilih diam ketika kau bertanya, siapa itu dermawan. Kenapa tidak memakai nama ibu saja di belakang nama kue apang panas. Misal, apang panas Aisyah, atau namaku saja, apang panas Zaenal. Mengapa harus apang panas dermawan. Ibu memilih diam, dan berjanji apabila waktunya telah tiba, dia akan menjelaskannya padaku. Aku mengangguk pertanda mahfum, tidak berani sedikitpun memaksa ibu.

***

Sudah hampir enam tahun ibu menjalankan usaha ini. Menjadikan usaha ini sebagai mata pencaharian tunggal. Dan Alhamdulillah, semua biaya hidup kami sehari-hari, termasuk biaya sekolahku untuk masuk SD, berasal dari hasil penjualan apang panas. Apang panas dermawan. Semakin hari, jualan ibu semakin dikenal, mulai dari warga sekitar, hingga luar kota. Di luar penjualan sehari-hari, selalu ada pesanan tiap pekan untuk berbagai macam acara dalam dan luar kota. Ibu sekarang tidak lagi sendirian, apang panas dermawan telah memiliki pekerja berjumlah tiga orang, yang tidak lain juga adalah keluarga dekat kami. Alhamdulillah, apang panas dermawan berhasil membuka pintu-pinu rejeki bagi lingkungan sekitar. Meski usaha penjualan ini semakin berkembang, ibu sama sekali tidak pernah meninggalkan aktivitas rutinnya, yaitu bangun pada pukul tiga lebih tiga puluh menit, dini hari. Salat tahajjud beberapa rakaat yang diakhiri dengan witir.

Advertisements