Cerpen Alda Muhsi (Analisa, 29 Mei 2019)

Ramadan Tanpa Bapak ilustrasi Alwi - Analisaw.jpg
Ramadan Tanpa Bapak ilustrasi Alwi/Analisa

Kenangan bersamamu adalah air mata tak bermuara.

LANGHIT bercat kusam ketika aku meratapi gundukan tanah di pemakamam yang telah ditaburi bunga-bunga. Serupa detak dadaku yang berselimut duka. Aku paham keinginanmu mengakhiri usia. Bukan pada kemewahan yang bergelimang. Kau lebih memilih pergi dalam kesunyian. Sebab segalanya tak akan merepotkan. Cukup sudah membuat orang lain sibuk musabab penyakit yang kau derita. Dan kau tahu, aku sangat menyesali cara kepergian itu.

Aku mendapatimu sudah dingin dan kaku di tubuh ranjang bisu yang tak lagi berderit. Napasmu sudah tidak terasa dari tiga sumber berbeda. Kuletakkan telapak tanganku ke dahimu, suhunya tak biasa. Lebih dingin dari kota kita ketika musim hujan. Lalu kugeser perlahan ke bawah tenggorokan untuk mencari sisa denyutnya, barangkali masih terselip. Namun, tak kurasa apa-apa.

Tubuhku mulai mengikuti suhu tubuhmu. Aku merasakan dingin yang kiat lekat. Kembali aku mencari denyut nadi sesenti di bawah telapak tanganmu. Namun, hasilnya sama saja. Aku tidak mendapati getaran di sana. Kurasa getarnya berpindah ke jantungku yang berdebar semakin kuat.

Dadamu tak lagi kembang kempis, begitu pula perutmu yang tipis. Aku semakin kehilangan harapan ketika kuangkat jariku dan kuletakkan di antara lubang hidung dan bibirmu. Tidak ada gerakan angin yang mengembus bulu-bulu di jariku. Tidak ada hawa panas yang menghangatkan gigil jemariku. Pada saat itu aku yakin kau telah kembali.

Orang-orang sibuk membereskan meja dan kursi untuk menyemayamkan mayatmu. Sementara aku tak dapat melakukan apa-apa. Aku seperti pekerja yang tersetrum tegangan tinggi memandangmu dalam kekosongan.

“Sudah kau telepon semua keluarga?” sayup-sayup suara tetangga mengalun di telingaku.

Jujur saja, aku tak kuat mengabarkannya. Walau terus kucoba untuk membendung kesedihan, namun memang tak semudah kata-kata. Tak sebiasa ketika kita menenangkan orang lain.

“Bagaimana, sudah dikabarkan?”

Advertisements