Cerpen Eiffah E (Rakyat Sultra, 27 Mei 2019)

Laki-Laki Tanpa Mata ilustrasi Rakyat Sultraw.jpg
Laki-Laki Tanpa Mata ilustrasi Rakyat Sultra

“Dapatkah kau ceritakan ini padaku?” kau menyodorkan buku garapanku yang berjudul Laki-Laki Tanpa Mata.

Aku menerimanya, menatap buku yang sekarang berada di genggamanku dengan mata nanar. Aku menoleh pada laki-laki tanpa mata di sampingku, menggenggam tangannya. Ia mengangguk lembut. Aku membuka buku itu sebentar, lalu menutupnya kembali.

Mendekatlah, kau akan kuberitahu tentang ke mana perginya mata-mata itu…

Kalau kau berkunjung ke pulau M, begitu tiba di dermaga, kau akan disuguhkan pemandangan kota S di ujung barat pulau yang amat menakjubkan. Apalagi kalau kau melihatnya ketika separuh bagian matahari tenggelam di pangkuan kaki langit sebelah barat. Pula kau akan melihat siluet gedung-gedung tinggi yang seolah tengah mencakar-cakar dengan taringnya—dan berdiri kokoh seolah pula menantang makhluk langit. Senja dengan siluet gedung-gedung tinggi itu, andai saja seorang pelukis menuangkannya dalam sebuah kanvas, tak pelak akan menjadi lukisan terindah sepanjang masa. Atau kalau saja seorang pemotret datang menyimpan pemandangan itu dalam kamera, tak akan bosan setiap orang memandangnya.

Namun, seperti yang telah diketahui sebelumnya, tak boleh membawa sesuatu apa pun selain kenangan, dan tak ada seorang pun keluar dari pulau membawa sesuatu apa pun selain kenangan, dan memang tak seharusnya membawa sesuatu apa pun selain kenangan.

Kalau kau berkujung ke pulau M, begitu tiba di dermaga, kau akan duduk menunggu bus di halte dekat dermaga. Kau sudah tentu akan naik bus jurusan kota S, sebab tak ada bus lain yang lewat dermaga selain bus jurusan kota S, sebab kalau kau berkunjung ke pulau ini, tak akan ada tujuan lain selain ke kota S, sebab memang tak ada kota lain di pulau ini selain kota S. Dan begitu tiba di kota S, kau akan mendapati betapa pada kenyataannya kota S teramat berbeda dari kelihatannya. Ketika kau tahu kenyataannya, betapa kau akan bersyukur kau bukan laki-laki kota itu. Ketika kau tahu kenyataannya, betapa kau hanya akan bisa melihat tanpa dapat dilihat oleh siapa pun.

Kalau kau melihat kota itu dengan kemilau keindahannya dari kejauhan, maka mendekatlah, dan kau akan mendapati tempat yang seharusnya terdapat bola mata di wajah para laki-laki di kota itu, ternyata kosong. Beruntung, perempuan di kota itu tidak mengalami nasib yang sama. Setidaknya kau masih bisa dilihat oleh mereka para perempuan. Setidaknya, sekolah, toko-toko, rumah makan, rumah sakit, bengkel, kantor-kantor, pabrik, serta fasilitas umum lainnya masih tetap berjalan sebagaimana mestinya walau tanpa satu pun karyawan laki-laki di dalamnya. Setidaknya, kota itu masih sama dengan kota-kota lainnya.

Advertisements