Cerpen D. Hardi (Fajar, 26 Mei 2019)

Teror Mayat Hidup ilustrasi Fajarw.jpg
Teror Mayat Hidup ilustrasi Fajar

Sungguh, tiada malam berselaput pekat yang lebih mencekam selain kepekatan pandang sejauh mata tertuju disertai derau yang terus memburu, keluar dari rongga mulut yang terus menganga meneteskan busuk jelijih dari bibir yang menghitam, senantiasa meraum lapar bak penguasa rimba yang terjebak dalam tubuh manusia.

Dari tubuh makhluk-makhluk itu menguar pula aroma tak sedap yang bikin mual. Aku bisa menciumnya dari kejauhan. Bau kematian yang akan memburu siapa saja yang terlihat ketakutan. Beberapa raut sekelebat mirip seseorang yang kukenal. Tentu dengan kondisi yang sudah tak karuan. Anehnya, dengan Ësik yang rusak itu pakaian mereka terlihat masih lengkap menutupi badan. Bukankah seseorang yang telah mati tak membawa apa-apa lagi selain amal kebaikan? Mereka seperti monster yang tak rela meninggalkan alam dunia. Tak rela melepaskan atribut yang pernah disandangnya.

Mungkin dulu mereka mantan pejabat, selebritis papan atas, politikus, atau siapa pun yang semasa hidupnya dinilai terpandang, kini tak lebih dari onggokan daging membusuk, makhluk buas yang akan menerkam siapa saja yang ada di dekatnya. Darimana datangnya malapetaka ini, aku tak tahu persis. Yang pasti, mereka muncul tiba-tiba di suatu malam saat kami semua sedang merayakan detik pergantian tahun. Suasana sontak menjadi kacau. Kalut. Histeris ketakutan. Mereka berhasil menangkap teman dan saudara-saudaraku, mengulitinya hidup-hidup, dan menyantapnya beramai-ramai.

Mereka yang tergolek luka parah tiba-tiba berdiri, turut berubah jadi makhluk haus darah. Menguberku dengan beringas seolah asing lagi tak mengenali. Gila! Aku hanya bisa berlari dan terus berlari kencang sekuat tenaga. Entah seberapa jauh kaki ini melangkah, sampai tiba di tepian sungai kecil, langkahku terhenti—sejurus kemudian baru kusadari jika mereka telah pergi. Lenyap begitu saja. Mendadak hening. Tepat pukul tiga pagi aku terjaga. Selalu begini.

Mayat-mayat hidup yang sering aku tonton di sebuah Ëlm terasa benar terjadi, meski hanya kualami dalam mimpi buruk, akhir-akhir ini. Membuatku kelelahan di kantor. Lunglai diterpa kantuk. Kerja tak produktif. Stamina menurun.

Mimpi itu tak ubahnya maut yang meneror hidupku pelan-pelan.

Advertisements