Cerpen Juan Rulfo (Serambi Indonesia, 26 Mei 2019)

Tanah Kami ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Tanah Kami ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia

SETELAH berjalan begitu lama tanpa melihat bayang pohon, biji, atau ranting apa pun, kami mendengar anjing menggonggong. Di tengah jalan yang tidak menarik ini, kami sempat berpikir tidak ada apa pun di seberang sana, tidak di ujung dataran yang dibelah oleh retakan dan anak sungai yang kering ini. Tetapi rupanya ada sesuatu. Ada sebuah kampung. Kami mendengar anjing menyalak dan menghidu bau asap di udara dan menikmati bau pertanda ada manusia, seolah-olah ia memberikan harapan. Tetapi kampung itu masih jauh di depan. Angin yang membuatnya terasa lebih dekat.

Kami telah berjalan sejak subuh. Sekarang sudah sekitar jam empat sore. Seseorang menengadah ke langit dan membuka matanya lebar-lebar ke arah di mana matahari bergantung tenang dan ia berkata: “Sudah sekitar pukul empat.”

Seseorang itu bernama Meliton. Bersamanya ada Faustino, Esteban, dan aku sendiri. Kami berempat. Aku menghitung: dua di depan, dua lagi di belakang. Aku melihat ke belakang dan tidak melihat ada siapa pun. Lalu aku berkata kepada diri sendiri: “Cuma ada kami berempat.” Beberapa saat yang lalu, sekitar jam sebelas, ada kurang lebih dua puluhan; tetapi mereka berkurang sedikit demi sedikit hingga kelompok kecil kami saja yang yang tinggal.

Faustino berkata: “Mungkin akan turun hujan”.

Kami semua menengadahkan kepala dan melihat awan tebal, hitam lewat di atas. Dan kami berpikir: “Iya, mungkin.” Kami tidak mengutarakan apa yang kami pikirkan. Sejak beberapa saat yang lalu, kami sudah kehilangan keinginan berbicara. Kami kehilangan itu sebab panas. Kau akan bersedia berbicara di tempat lain, tetapi di sini itu hal sulit. Di sini, ketika kau berbicara, kata-kata menghangat sebab panas dari luar dan mereka mengering di lidahmu dan akhirnya menjadi embusan napas. Di sini semuanya seperti itu. Itu sebabnya tidak seorang pun merasa ingin berbicara.

Satu tetes besar air jatuh, membuat lubang di tanah, meninggalkan bekas seperti air ludah. Itu satu-satunya yang jatuh. Kami berharap lebih banyak lagi akan mengikuti dan mata kami mencarinya. Tetapi tidak ada lagi. Itu bukan hujan. Sekarang ketika kami memandang langit, kami melihat awan berhujan berpacu jauh dengan kecepatan penuh. Angin dari kampung bertemu dengannya dan mendorongnya ke arah bayang biru bebukitan. Dan tetes yang telah jatuh tanpa sengaja itu dilahap oleh tanah dan hilang dalam kegerahannya.

Advertisements