Cerpen Fitria Sawardi (Republika, 26 Mei 2019)

Sepotong Es Tube di Bulan Ramadhan ilustrasi Rendra Purnama - Republikaw.jpg
Sepotong Es Tube di Bulan Ramadhan ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Sepotong es tube sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat desa. Bahkan, mereka rela menunggu di ujung jalan, demi melihat sosok lelaki umur tiga puluhan datang. Adalah Muhaimin yang datang dari seberang desa membawa sejuta kesenangan bagi warga Desa Guah. Ia hadir saban sore setiap bulan Ramadan dengan membawa gerobak berisi es tube.

Gerobak yang biasa dibawanya ke Desa Guah disambungkan pada ujung belakang sepeda motor dengan menggunakan tali. Sejak beberapa tahun yang lalu, ia muncul dari seberang desa. Orang-orang Desa Guah tidak tahu persis identitas lengkapnya karena Muhaimin selalu mengalihkan pembicaraan ketika ada salah satu warga desa yang bertanya. Ia berusaha menutupi identitasnya, kecuali nama dan alamatnya, itu pun belum begitu jelas karena ia tidak pernah menyebutkan sacara sempurna alamat lengkapnya. “Saya Muhaimin dari seberang desa.” Itu saja yang ia infokan pada warga desa ketika didesak dengan pertanyaan.

Jawaban Muhaimin yang selalu berusaha menutupi identitasnya, menciptakan anggapan bahwa soal identitas Muhaimin tidak lagi penting. Warga desa tidak memaksa untuk mendapatkan identitas lengkap Muhaimin. Yang terpenting adalah mereka bisa mendapatkan es tube dari lelaki itu secara gratis. Iya, gratis. Muhaimin tidak pernah meminta bayaran sepeser pun atas es tube yang dibawanya dari seberang desa. Aneh bukan, ia datang dari seberang desa, dengan bersusah payah melewati jalan desa yang penuh batu nan licin karena tidak beraspal. Kemudian, memberi es tube dengan cuma-cuma.

Beberapa tahun yang lalu, saat ia datang pertama kalinya dengan gerobak berisi es tube, warga Desa Guah merasa ragu untuk menerima es tube itu. Mana mungkin ia datang jauh-jauh dengan memberikan es tube secara gratis, pasti ada sesuatu yang diinginkan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, warga desa mulai menerima es tube itu. Mereka yakin, bahwa Muhaimin bukanlah orang jahat.

Maklum, Desa Guah sama sekali belum terjamah oleh listrik. Sangat mustahil bagi warga di desa ini untuk mendapatkan es tube dengan mudah, apalagi mendapati kulkas di setiap rumah. Untuk mendapatkan es tube, mereka harus pergi ke luar desa yang dijual saban sore, namun itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Harus berjalan beribu langkah kaki. Bukan tidak mungkin, kehadiran Muhaimin bagaikan malaikat yang berubah menjadi manusia, dengan memberi keberkahan di bulan Ramadan. Setiap hari di bulan Ramadan, ia ti dak pernah alpa untuk datang ke Desa Guah dengan membawa gerobak berisi es tube.

Advertisements