Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 26 Mei 2019)

Pulang ke China ilustrasi Budiono - Jawa Pos.jpg
Pulang ke China ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

AKU melihat peti-peti besar itu pertama kali pada bulan Oktober 2016, ketika menemani dua temanku dari Taiwan, Sima Wu Ting Kuan dan Jiang Wanqi, mengunjungi kampung Gedong, salah satu perkampungan Tionghoa tertua di Pulau Bangka. Saat itu keduanya didanai oleh Taipei Hakka Affairs Commission1 untuk mengadakan riset tentang kehidupan masyarakat Hakka di kampung halamanku.

Ada dua buah peti tergeletak di sana, di sisi kanan salah satu pabrik kerupuk kemplang. Entahlah sudah berapa lamanya mereka dibiarkan teronggok di tempat itu, barangkali digunakan untuk menyimpan barang-barang yang tak terpakai. Keduanya tampak keras dan kokoh, dan aku kira terbuat dari kayu Nyatoh atau Ulin yang kerap dipakai untuk membangun rumah atau membuat perahu sampan. Seorang lelaki berkaos oblong dan bercelana pendek terbaring tengkurap di atas salah satu peti, tertidur lelap. Tak terusik sedikit pun oleh kehadiran kami, juga oleh orang-orang yang datang berbelanja ke toko kemplang di sampingnya maupun taruhan ikan sepat yang sedang memanas di seberang jalan. Mungkin ia salah seorang pekerja di pabrik kemplang itu, pikirku. Tetapi bisa jadi juga ia hanyalah seorang tetangga yang sekadar menumpang tidur siang.

“Peti-peti itu sisa peninggalan masa pengusiran orang Tionghoa di tahun 60an. Banyak orang dari desa Lumut ini yang terpaksa pulang ke Tiongkok. Namun sebagian kemudian batal pulang, termasuk paman pemilik pabrik kemplang ini beserta seluruh keluarganya,” seorang warga menjelaskan kepada kami.

Aku tidak ingat lagi seperti apa tanggapanku kala itu, namun yang jelas aku langsung teringat pada mendiang kakekku dan Surat Kepulangan2 milik keluarga kami yang tak pernah dipergunakan, yang selama berpuluh tahun lamanya tersimpan di laci meja kerja Akong sebelum kemudian aku amankan sebagai warisan keluarga.

***

KETIKA Peraturan Pemerintah nomor 10 tahun 1959 atau yang lebih dikenal sebagai PP-10 diberlakukan oleh Pemerintah Soekarno, paman bungsuku Man-Man belum lama lahir. Usianya belumlah genap satu tahun (dalam hitungan kalender Masehi) tatkala ia dipangku oleh nenekku dalam potret keluarga yang ditempel di atas lembaran Surat Kepulangan tersebut. Foto hitam putih yang dibuat di sebuah studio foto inilah potret seluruh keluarga besarku satu-satunya yang masih tersisa sekarang.

Advertisements