Cerpen Pangerang P. Muda (Solo Pos, 26 Mei 2019)

Pembuat Kursi ilustrasi Solo Posw.jpg
Pembuat Kursi ilustrasi Solo Pos

Gerung dua jip dari arah gerbang praja mendetakkan nadi kota. Jalanan masih senyap. Orangorang lebih suka mengintip dari balik kaca jendela ketika dua jip itu melewati depan rumah mereka. Sebagian besar warga masih enggan keluar rumah, setelah sehari sebelumnya badai debu melintas dan mengubah rupa kota kecil itu serupa mumi yang telah berbaring ribuan tahun. Sejauh tatap menyalang, yang terlihat kelabu semata.

Begitu mendapati orang, rombongan itu bertanya di mana rumah pembuat kursi yang banyak dibicarakan itu. Saat menemukan orang kedua di jalanan dan mendapat tudingan arah yang sama, yakinlah yang mereka cari memang tidak keliru.

Rumah pembuat kursi itu berfungsi pula sebagai tempat kerja. Setelah mobil berhenti di depan rumah, yang duluan melangkah masuk adalah orang yang turun dari jip belakang. Masih di ambang pintu, tamu itu sudah menukas, “Apakah kamu pembuat kursi yang terkenal itu?”

Tamu itu bertanya karena keliru mengira usia pembuat kursi yang mereka datangi. Meski tak terlihat gerak tangan gemetar saat mengetam sisi sebuah balok yang akan dijadikan kaki-kaki sebuah kursi, tapi kerut-merut di wajah cukup untuk mewartakan usianya.

Pembuat kursi di depannya tak acuh dan tetap meneruskan bekerja, membuat tamu itu merasa tersinggung. “Mm, kamu tidak mengenal saya?” sergahnya.

Pembuat kursi itu sudah jamak didatangi pembesar, juga para pesohor, untuk memesan dan membeli kursi buatannya. Makanya enteng saja ia menjawab, “Saya memang hanya mengenali pengunjung yang pernah memesan kursi buatan saya.” Barulah ia mendongak, menatap dan mulai menilai-nilai sikap congkak tamunya. “Dan sepertinya … ah, Tuan tentu belum pernah memesan kursi sebelum ini.”

“Memang belum.” Tak juga lekang sikap congkaknya, tamu itu menatap lekat si pembuat kursi seraya mengajukan permintaan, “Buatkan saya sebuah kursi yang sangat istimewa,” berjeda seraya menghela napas, “Begitu istimewanya, sehingga kursi serupa itu belum pernah kamu buat sebelumnya, dan juga tidak akan kamu buat lagi samanya.”

Merespons dengan paras tak terkejut, tetap sedatar sisi-sisi balok yang selesai ia serut, pembuat kursi itu mengangkat balok sepanjang dua kali lengannya yang sedang ia kerjakan. Satu matanya memicing, sedang matanya yang terbuka ia tatapkan selurus garis tepi balok, memastikan balok itu telah presisi lurusnya. Ia kemudian mengusap permukaan balok, memastikan kehalusan hasil serutannya.

Sikap itu membuat si tamu mengulang sergah, “Kamu sanggup membuatnya?”

Advertisements