Cerpen Umi Salamah (Kedaulatan Rakyat, 26 Mei 2019)

Nek Jum ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Nek Jum ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

SETIAP datang bulan Ramadan, ayahku rutin menceritakan kisah seorang nenek yang dahulunya sangat dibenci dan suatu peristiwa membuatnya kekal abadi dalam kenangan setiap warga di kampung kami, terutama ayah. Ini bukan kisah yang bahagia. Tetapi barangkali terus dan terus dikenang oleh warga di sini adalah kebahagiaan tersendiri bagi nenek itu.

Namanya Nek Jum. Wajahnya penuh dengan kerutan. Aura mendung mendominasi wajahnya. Dia tinggal sebatang kara di gubug reyot di perbatasan kampung. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana Nek Jum bisa hidup tanpa bekerja. Mereka acuh tak acuh. Kecuali pada saat malam hari. Nek Jum akan salat Magrib sampai salat Isya di surau. Tak ada yang sudi berdekatan dengan Nek Jum.

Tampaknya bagi orang-orang, Nek Jum pantas mendapatkan hinaan. Hidup Nek Jum  yang sekarang bertolak belakang ketika dia masih muda. Dahulu uang akan mengalir terus. Nek Jum tidak kesusahan untuk hidup. Makanan enak, pakaian mahal, dan tempat tinggal yang nyaman dia punya. Berkat pekerjaannya menjajakan diri.

Nek Jum menggiurkan. Dia menjadi primadona di tempat bekerjanya. Hingga masa mudanya selesai, hidup Nek Jum berubah drastis. Tidak ada lagi yang mau dengan Nek Jum. Label primadona terlepas begitu keriput-keriput tumbuh di wajahnya. Dia dibuang dari tempat kerjanya.

Begitu Nek Jum keluar dari tempat kerjanya, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak punya keahlian apa pun karena masa mudanya dihabiskan di tempat kerjanya itu. Sejak keluar dari tempat kerjanya, Nek Jum tinggal di gubug reyot di perbatasan kampung sana. Satu-satunya tempat yang terasing. Tetapi apa boleh buat. Warga hanya mengizinkan Nek Jum tinggal di sana. Mereka tak sudi tinggal bersama Nek Jum di tengah kampung.

Hanya ada satu tempat di mana warga tak bisa mencegah Nek Jum menyambanginya. Surau. Satu-satunya surau yang ada di kampung. Tetapi tak ada yang bisa mencegah mulut manis yang menghina Nek Jum.

“Wanita hina seperti dirinya tidak pantas hidup.”

“Ini karma dari Allah.”

“Lihatlah tubuhnya. Penuh dengan dosa.”

Advertisements