Cerpen Adi Zamzam (Analisa, 26 Mei 2019)

Malam Itu Dia Melihat Kepulangan Suaminya ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Malam Itu Dia Melihat Kepulangan Suaminya ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

DI luar, hujan deras sekali. Hawa dingin menemani gelap yang terlihat begitu pekat dari tempat duduknya. Dia tengah menunggu di ruang tamu.

Setengah jam lalu terdengar suara putri bungsunya—yang bilang terbangun gara-gara suara petir, “Tutuplah pintunya, Mak. Hujannya deras sekali. Hawanya dingin sekali.”

“Iya, nanti aku tutup. Kau tidurlah,” jawabnya. Kemudian dia memang menutup pintu itu, tapi hanya setengahnya.

Bagaimana kalau nanti bapak pulang justru saat pintu sudah ditutup? Bagaimana kalau nanti suara ketukan itu tertelan riuhnya hujan, hingga beliau tertahan di luar berjam-jam?

Dia tak tega. Apalagi dulu pernah kejadian, bapak tak jadi masuk rumah lantaran malam itu pintu sudah tertutup. Tiga hari tiga malam bapak tak pulang, lantaran malam itu konon bapak memang tengah dibuntuti tentara Jepang. Kabar itu terbukti dengan insiden pagi harinya. Beberapa tentara Jepang mengamuk dan merampas pakaian, hasil ladang, dan barang-barang yang diperjualbelikan di pasar.

Tentu saja dia ketakutan. Bagaimana seandainya Jepang tahu bapak di rumah? Lalu malam itu mereka mendobrak pintu, mengambil dua anak gadisnya yang sudah balig? Dia tahu bapak orang cerdas. Beliau pasti telah memperhitungkan hal itu, dengan lebih baik pergi ketimbang menunggu di teras rumah.

Baru hari belakangan pula dia menyadari beratnya menunggu. Konon, dulu dia juga sering menangis tatkala ditinggal pergi romo yang menjalankan pekerjaan sebagai sekretaris pegawai Pemerintah Belanda. Sering bepergian ke sana ke mari. Suatu kali beliau bilang pergi untuk jadi penerjemah. Suatu ketika bilang pergi untuk menyurvei, bahkan beliau juga pernah bilang pergi untuk sekolah. Dia menganggap itu adalah sebuah kebohongan. Dia berpikir pasti romonya sedang berlibur di tempat istri mudanya di tempat lain, sebelum kemudian diboyong ke istana juga.

Itu hal yang amat menyedihkan. Jika kelak perempuan itu sebaik biyung Waginem, tentu ia masih akan betah menghabiskan hari-hari dalam istana. Bagaimana jika perempuan itu setipe biyung Paini, yang sering memusuhi bibi Sudarmi?

Advertisements