Cerpen Ahmad Abu Rifai (Suara Merdeka, 26 Mei 2019)

Jalan Ini dan Jalan-Jalan Itu, Sepanjang Pantura ilustrasi Putut Wahyu Widodo - Suara Merdekaw.jpg
Jalan Ini dan Jalan-Jalan Itu, Sepanjang Pantura ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Aku sedang mengubah posisi tas punggung ke depan dada saat debu terminal buyar diterpa angin akibat laju bus tua yang cukup karatan. Tidak ada bus menuju Surabaya lagi. Artinya, aku harus menanti meski tak tahu berapa lama.

Seorang nenek berjilbab hitam datang mendekatiku yang duduk di dekat musala Terminal Terboyo. Kulitnya hitam dan keriput. Peluh membasahi permukaan wajahnya.

Mangga, Mas. Lima ribu saja,” katanya menawariku koran.

Aku mengambil satu eksemplar. Hitunghitung buat bahan baca agar tak begitu bosan saat sudah naik bus.

Matur nuwun, Mas,” ucap dia setelah menerima selembar uang kusut dariku. Nenek penjual koran itu segera pergi menuju calon pembeli lain. Entah kenapa, aku tiba-tiba ingat Mamak. Aku membayangkan Mamak saat berjualan pecel di kampung. Beliau pasti sama dengan nenek itu, berteriak-berteriak, menjajakan dagangan.

Rasa rindu kepada Mamak tibatiba menggelegak. Aku merasa bersalah tidak pulang hampir selama satu semester. Padahal, aku hanya kuliah di salah satu universitas di Semarang dan kampung halamanku Pati. Jarak kedua kota itu tidaklah jauh.

“Aku belum bisa pulang, Mak. Maaf,” ucapku beberapa kali saat kami tersambung via telepon.

Mamak dan Bapak hanya bisa mengiyakan sambil berpesan yang baik-baik. Baru kali pertama ini aku lama tidak pulang. Tiga semester yang sudah-sudah, aku selalu pulang dua minggu sekali. Paling lama satu bulan sekali. Namun karena semester ini banyak sekali tugas dan kegiatan luar kelas yang harus kukerjakan, tradisi pulang itu agaknya memunah.

“Sabar ya, Mak, Pak,” kataku tiap kali hendak menutup telepon. Aku tahu orang tua akan selalu menanam kerinduan begitu besar pada anakanaknya, sebesar apa pun, setua apa pun sang buah hati telah tumbuh. Aku bersyukur pada H-3 hari raya ini aku bisa pulang. Aku sudah tak sabar mencium tangan Mamak dan Bapak, melihat segores senyum di wajah mereka.

Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya ada dua bus masuk terminal. Dua-duanya bus jurusan Semarang-Surabaya. Aku lekas berdiri dan mendekati kedua bus itu bersama belasan orang lain. Kondektur bus pertama berwarna hijau bilang akan berangkat satu jam lagi, sedangkan bus kedua bisa langsung berangkat. Praktis, aku dan para calon penumpang segera antre. Kami berdesakan. Aku pikir, rindu adalah penyebab semua ini.

Advertisements