“Ahmm…” aku berpura-pura batuk, “Mitha, aku punya film bagus di HP. Kamu mau menonton tidak?” tawarku padanya.

Dia sekilas memandang aku. Matanya terasa dalam dan menembus dinding-dinding akal sehat. Dia kemudian tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Dia menerima tawaranku untuk menonton film berdua.

Aku dan Mitha kemudian menonton film Titanic, sebuah film percintaan dan bencana Amerika Serikat yang diskenarioi serta disutradarai oleh James Cameron. Kami berdua menonton film itu sambilan menikmati kopi buatanku. Kami sama-sama terpaku pada saat tokoh Jack melukiskan tubuh Rose yang sedang telanjang. Kami sama-sama terdiam, tidak tahu apa mesti dikatakan, hingga film tersebut selesai, kami masih terdiam.

“Masih ada film bagus?” tanya Mitha kemudian, sekaligus memecah kebisuan di antara kami.

“Kamu punya?” aku malah balik bertanya.

“Sekarang kita nonton pakai HP-ku saja. Aku punya film bagus!” balasnya dengan sangat percaya diri.

Kami berdua kemudian menonton di ponsel milik Mitha. Dia menontonkan sebuah film dengan judul Nymphomaniac. Di awal film itu aku tidak terlalu fokus karena hanya diceritakan seorang lelaki tua bertemu dengan seorang perempuan yang tidak sadarkan diri di sebuah lorong, dan kemudian lelaki tua itu membawa perempuan tersebut lalu mengobatinya.

Karena Mitha menyadari ketidaktertarikanku, kemudian ia mempercepat durasi film itu, dan seketika itulah darahku terasa naik, aku terdiam dan tidak bisa bicara apaapa. Film tersebut mempertontonkan hubungan intim antara laki-laki dan perempuan tanpa sensor sedikit pun, telanjang bulat, payudara dan alat kelamin di sana tampak jelas sekali.

Aku semakin gelisah karena ada sesuatu yang harus aku tahan dan itu sungguh menyebalkan. Semakin lama semakin gemetarlah aku menahan kegelisahan itu. Celanaku sudah menampakkan warna basah pada bagian kancingnya. Tonjolan di sana semakin terlihat jelas. Aku tidak tahu apa yang mesti kuperbuat. Di luar rumah kilat masih melintas-lintas, suara gemuruh masih menggelegar, serta desahan angin masih terdengar kencang. Dan tokoh perempuan pada film itu semakin membuat aku tidak tahan diri lagi.

Tiba-tiba tangan Mitha meraba tepat pada tonjolan di bagian kancing celanaku, dia meremas alat vitalku. Aku melihat dia menatapku seakan-akan menyihir dan menggigit-gigit bibirnya. Aku sudah tidak tahan, kemudian kurebahkan badanku kepadanya, kami pun bercinta untuk yang pertama kali sementara perempuan hiperseksual dalam film tadi sedang asik pula bercinta dengan laki-laki yang dia temukan.

Advertisements