Cerpen Ahmad Anif Alhaki (Denpost, 26 Mei 2019)

Istriku dan Selembar Kisah di Balik Itu ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Istriku dan Selembar Kisah di Balik Itu ilustrasi Mustapa/Denpost

ISTRIKU adalah segumpal bangkai yang sudah tewas di tanganku sendiri. Aku membunuhnya karena hati diulam cemburu. Kini aku menderita dilanda sesal dan kurawat dia meskipun sudah menjadi bangkai manusia.

Istriku itu bernama Mitha Sanzira. Aku memanggil dia Mitha karena namanya tiada lain sama dengan nama ibuku: Mitha Haimun. Selain ada kesamaan nama, istriku dan ibuku memiliki perawakan muka yang hampir sama, mata yang hampir sama, bahkan cara mereka berbicara pun hampir sama.

Hari ini tubuh Mitha sudah menjadi bangkai, terguling di atas kasur kapuk berwarna putih, tangannya terlipat rapi di atas dada, kulit dan dagingnya keriput membungkus tulang. Untung saja aroma tubuhnya belum berbau busuk sehingga tidak ada satu tetangga pun mengetahui tentang keadaan ini. Mungkin karena larutan formalin yang setiap hari selalu aku suntikkan ke dalam tubuhnya.

Aku membunuh Mitha karena hatiku diulam cemburu. Satu tahun setelah kami menikah ia sudah berani membawa lelaki lain ke dalam rumah. Bahkan pada saat aku sedang di rumah, ia berani membawa lelaki lain itu ke dalam kamar, melakukan sesuatu yang membuat aku dibakar cemburu, dia bercinta sesuka hatinya. Kejadian begitu tidak hanya sekali saja, tapi malah berulang-ulang kali, ia kerap membawa lelaki-lelaki baru.

Kebiasaan Mitha membawa lelaki-lelaki baru ke dalam kamar dimulai ketika aku sudah tidak kuat melayani dia setiap hari, kebutuhan biologisnya sangat tinggi sekali sampai-sampai aku tidak punya kekuatan untuk memenuhinya. Bahkan, dalam percintaan aku selalu dikatakan lemah, tidak memuaskan, tidak asik, dan perkataan itulah selalu jadi penutup saban kali percintaan kami usai.

Sampai pada suatu ketika, Mitha bercinta dengan birahi berapi-api tepat di depan mata kepalaku. Dia bercinta dengan seorang lelaki bertubuh kekar, bertato, dan berkulit hitam. Mereka menikmati hubungan intim seakan-akan aku tidak ada di sana. Aku tidak bisa apa-apa di sana, hanya memandangi dalam-dalam sambil menitikkan airmata.

Setelah percintaan mereka berdua usai, lelaki itu pergi tanpa basa-basi, Mitha masih terkapar di atas kasur tempat mereka selesai bercinta.

“Huftt…” desah istriku kemudian seakan-akan dia telah puas dari kebutuhan birahinya tanpa mengubris kalau aku ada di sana.

Advertisements