Cerpen Sam Edy Yuswanto (Analisa, 26 Mei 2019)

Hukuman yang Pantas bagi Plagiator ilustrasi Toni B - Analisaw.jpg
Hukuman yang Pantas bagi Plagiator ilustrasi Toni B/Analisa

Menurut kalian, kira-kira hukuman seperti apa yang pantas bagi plagiator? Blacklist semua media cetak dan online? Ah, itu hukuman yang terlalu ringan. Terlalu biasa dan tak cukup membuatnya jera. Tangkap saja dan masukkan dia ke penjara seperti para koruptor! Aku tersenyum lebar ketika ide yang menurutku brilian ini menggema lantang di ruang benak.

Namun, senyumku seketika memudar saat menyadari bahwa di negeri terkasih dan tercinta ini butuh waktu yang sangat panjang dan berbelit untuk menangkap seorang koruptor yang tertangkap basah menggasak uang rakyat dan menjebloskannya ke dalam jeruji besi. Belum lagi, penjara bagi para koruptor tak lantas membuatnya jera. Karena di dalam penjara pun mereka masih bisa hidup bergelimang kemewahan, menikmati gerlap duniawi. Mungkin, ya, mungkin hanya lubang kubur yang kelak mampu membuat mereka jera sebenar-benarnya jera.

Enak saja. Jangan sampai orang yang telah memplagiasi tulisanku hidup enak-enakan di dalam penjara! batinku meradang tak terima. Hingga beberapa menit ke depan, nyatanya aku masih belum menemukan sebuah ide yang cerlang tentang hukuman apa yang pantas dikalungkan di leher plagiator. Saat kepalaku terasa kian pening akibat tak kunjung menemukan ide atau solusi untuk menghukum penulis yang telah kurang ajar menjiplak tulisanku, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kamar kosku.

***

Bima, tetangga kos, mahasiswa semester tiga di universitas yang berbeda denganku dan baru dua bulan menekuni dunia kepenulisan, langsung masuk begitu aku membuka pintu.

“Suntuk banget wajahmu Bram, ada masalah?”

“Iya nih, aku lagi kesal banget sama penulis yang telah menjiplak cerpenku,” kepada Bima, aku meluapkan kekesalanku.

Raut Bima terlihat kaget mendengar ceritaku.

“Hah? Tulisanmu diplagiat? Siapa yang telah melakukannya, Bram?” gurat kejut terpoles di wajah sawo matang Bram.

Advertisements