Cerpen Maya Sandita (Haluan, 26 Mei 2019)

Bantal Penambal Bulan ilustrasi Azmalinda Azai - Haluan (1)
Bantal Penambal Bulan ilustrasi Azmalinda Azai/Haluan

Di puncak bukit, di sebuah rumah ladang yang lantai dan dindingnya kayu, lantunan doa bersambung ayat Al-Quran terdengar. Menjadi senandung yang dihantarkan udara dingin ketika malam semakin kelam dan bulan membawa pulang bintang-bintang. Sepanjang malam yang ia miliki, bisa terjaga lebih lama adalah anugerah paling istimewa. Ia suka menumpahkan rindunya sendirian, menyebarkannya ke udara sampai ke angkasa. Tepatlah kiranya bulan merajuk sebab gemintang tak sebanding dengan rindu si perempuan.

Dibukanya jendela yang tadi sudah dipasak kayu, dilihatnya ke luar, dan didapatinyalah hembusan angin yang cukup kencang. Sementara di langit sesekali cahaya lewat dalam sebentuk kilat. Terkejut ia, diusapnya dada dan terucap istighfar seketika. “Hujan lagi malam ini,” gumamnya sembari matanya mengarah ke atap rumah, mengira-ngira bagian mana yang berlubang.

Rintik terdengar satu-satu. Di langit awan berat. Menguap rindu perempuan itu setiap malam, mengendap ia menjadi gumpalan-gumpalan awan. Beberapa kali terasa begitu sendu doa itu, disebutnya satu nama berulang-ulang hingga tumpah dan tertuang air matanya pada tangan yang menengadah.

Serupa rintik air mata itu, jatuh satu dua tetes air hujan dari atap yang bocor, di salahsatu sudut dinding mengalir hujan yang langsung mengarah ke ujung pintu. Duduk si perempuan di atas dipan yang hampir lapuk dan kasur yang seolah tak lagi berisi kapuk. Bersila ia dalam mukena yang masih membaluti sekujur raga. Mengarah matanya ke pintu yang hanya satu di rumah itu. Lama ia bisa menemukan waktu kapan pintu itu diketuk tiga kali dan bukan ia yang mengunci terakhir kali.

“Ramadhan sudah datang dua kali, berjalan ke musala untuk salat tarawih dan witir tak berani kutempuh sendiri. Sering datang padaku rindu. Berharap kau datang mengetuk pintu seperti dua puluh…, atau dua puluh satu bulan yang lalu. Kemudian sahur bersama kita…” Belum sempurna terucap angan-angannya, panas terasa kedua mata dan mengalir air dari sudutnya. Hujan makin deras di luar. Berbaring si perempuan mendekap bantal, isak tangisnya ia telan sampai tertidur dan sepertiga malamnya terlewatkan.

Azan terdengar berkumandang dari musala di pinggir jalan. Suara dari corong musala tua sampai ke atas bukit rumah ladang, membangunkan si perempuan yang raganya kala itu terasa melayang. Dicobanya berdiri dan berjalan dengan kedua kaki. Tangannya bertumpu pada dinding kayu dan diraihnya gagang pintu. Menggigil ia, terlalu dingin udara ketika pintu dibuka. Azan masih terngiang di telinga tapi si perempuan tak mampu lagi rasanya berjalan. Tak ditemukannya sebentuk kekuatan untuk mengambil wudhu atau kembali menutup pintu. Tersungkur ia begitu saja. Pintu terbuka, ia berselimut mukena.

Matahari lahir dan menantang, menemani para pejuang untuk berangkat ke ladang. Hangat pagi membuat orang kampung yang mendaki bukit gampang berkeringat. Letih kakinya hingga betis terasa berat. Duduk orang kampung yang berjalan seorang diri dengan ransum di tangan kiri, di bawah sebuah pohon blewah, di depan rumah si perempuan.

“Baru setengah jalan sudah terengah-engah begini. Kapan bisa sampai di ladang paman?” ujarnya pada diri sendiri. Sembari duduk dikipas-kipaskannya sepotong kecil handuk. Menoleh ia ke kiri dan ke kanan, harus ia yakinkan perasaan bahwa ia tidak salah jalan. Ditangkap matanya sebuah rumah sangat sederhana, dindingnya kayu saja dan tak diberi cat warna. Terpaku ia pada sebuah pintu, dengan seorang perempuan tergeletak saja di situ.

“Pagi, Buk. Sudah siang kenapa masih seperti orang mau sembahyang? Bukannya subuh sudah sedari tadi pergi? Matahari saja sudah begitu tinggi.”

Tak ada sahut yang menyambut. Orang kampung merasa bingung. Berpikir ia, tidak mungkin itu orang gila, lalu mengapa ada perempuan tidur di depan pintu begitu sementara pintunya dibuka. Bergegas ia berdiri dan berjalan ke rumah ladang, ditinggalkannya penat tadi bersama ransum dalam rantang.

“Bu,” panggilnya sekali lagi. Dilihatnya lebih jelas wajah si perempuan yang pias. Disentuhnya kening dan pipi kemudian sadar bahwa suhu tubuh si perempuan terlalu tinggi. Di sekitar tidak ada orang, bagaimana cara ia bisa membopong dan mengantar ke bidan di bandar? Hanya di sana satu-satunya tempat berobat bagi orang kampung dan terkenal cukup ulung.

Jika ada yang lewat ia ingin sekali menghimbau tapi menurutnya di puncak bukit kecil ini barangkali hanya ada harimau. Diputuskannya untuk meluruskan badan si perempuan. Segayung air diambilnya dari ember besar di luar. Handuk yang ia bawa dibasahkannya dan diletakkan di kening si perempuan yang masih hening. Sebisik pun tak terdengar suara dari bibirnya.

Batal orang kampung itu ke ladang pamannya. Duduk ia di tepi pintu sambil menunggu barangkali orang kampung lain lewat menuju bukit. Melihat seorang perempuan yang sedang sekarat ditemani dirinya yang sungguh tak tahu apa yang mesti diperbuat. Matahari makin tinggi dan si perempuan mulai bergumam sesekali. Terdengar samar-samar bagi si orang kampung yang tertidur dan tiba-tiba terbangun lalu limbung.

“Nan…,” begitu yang terdengar, suara itu bergetar.

“Bu,” si orang kampung menyahuti di dekatnya.

“Nan…,” kembali diulang yang sejak tadi tak lagi terbilang.

Tiba seorang tua dengan seikat kayu-kayu kecil di atas kepala. Ia turuni bukit pelan-pelan dengan kayu panjang di tangannya sebagai penahan badan agar tak terjatuh membawa beban.

“Kek,” dihampirinya orang tua kemudian berkata, “Ada perempuan paruh baya di sana. Badannya panas dan wajahnya pias. Apakah ada obat atau ramuan yang bisa dibuat? Tolong, Kek,” pintanya.

Diturunkan kayu pelan-pelan dari kepala yang beruban. Berjalan keduanya kembali mendekati si perempuan. Diam sementara si orang tua, dilihat saksama wajah si paruh baya. “Di sini rupanya kau tinggal. Sepanjang hari kucari, sepanjang malam kusibakkan, tapi tak kunjung kutemukan. Sering kutempuh jalan ke bukit dan ke labuh, kusangka tak ada orang di rumah ladang. Hening dari riang setiap pagi hingga petang. Sementara ketika malam menjelang sekampung orang bilang, terdengar senandung doa dan ayat Allah dibaca.”

“Kenalkah Kakek dengan Ibu ini? Kenapa hanya melihatnya dan bergumam lama sekali?” bertanya orang kampung dengan bingung.

“Turunlah ke labuh, nak. Panggilkan siapa saja yang bisa membantu untuk membawa Nisa ke bidan bandar,” kata si orang tua sedikit terbata, air mata mengalir sebutir dua butir di sudut matanya.

Tidak ada tanya yang keluar lewat segumam suara. Orang kampung menuruni bukit meski kakinya terasa masih sakit. Sementara orang tua masih duduk di sana dan wajahnya tampak lara.

“Nan…,” kembali si perempuan bergumam pelan.

Diusapnya dahi sampai atas kepala yang masih tertutup mukena. “Tidak kau tahu kabar tentang Nando? Berapa lama kau ditinggalkannya? Nak, kutemukan kau dalam keadaan begini, dalam sepi dan sendiri. Pulanglah ke rumah. Tentu ibumu menunggu dengan teh hangat dan madu untuk obatmu.”

“Nan…,” gumamnya lagi, kali ini sedikit lebih keras. Barangkali bisa ia dengar suara si orang tua. Mengalir air mata di pipi kirinya.

Dua orang kampung lain datang, sepasang. Si perempuan dibopong bergantian menuruni bukit dengan sangat pelan. Sampai tiba ia di tepi labuh dan menumpanglah mereka ke atas sebuah mobil tua. Bandar jadi tempat tujuan dimana disediakan rumah bagi seorang bidan. Dinas kabupaten menyerahkan segala yang dibutuhkan agar bidan nyaman dan bisa membantu kampung dalam sebentuk pengabdian.

Tibalah di sana, si perempuan bernama Nisa, seorang tua, orang kampung tadi, dan sepasang orang kampung lainnya yang memilih langsung pergi. Orang tua membolehkan orang kampung pergi jika ada ladang yang tanamannya mesti disiangi atau sawah yang sudah harus ditanam padi. Tapi tetap menemani menjadi pilihan dari dalam hati, “Barangkali Kakek butuh bantuan saya nanti.”

Pulang dari bidan bandar dengan beruntung mereka menaiki mobil tua yang tadi sudah berulang dari hulu ke hilir kampung. Perjalanan ditempuh dengan sangat berpeluh, sebab mobil tua penuh sesak penumpangnya dan barang-barang niaga. Nisa dijaga dalam peluk ayahnya, orang kampung tadi di sebelahnya sembari memegang barang yang tadi dibawa orang tua ke ladang. Usai perjalanan panjang dengan matahari yang cukup terang, orang kampung pulang. Nisa dan orang tua sudah sampai di rumahnya, disambut seorang tua lain yang tampak senyum rindu di wajahnya.

“Siapa namamu, Nak?” tanya orang tua perempuan yang menyambut mereka.

“Ridwan, Nek.”

“Anak siapa, kau?”

“Orang-orang memanggil ayah saya Gindo dan ibu saya Fatimah. Keduanya sekarang menetap di Aceh, Nek.”

Terbatuk ia sebentar sebab nama yang terdengar.

“Kau punya paman?”

“Punya, Nek. Paman Nando. Tadi saya hendak ke ladangnya. Ia menelepon kemarin untuk meminta saya datang dari Aceh ke kampung ini mengurusi ladang yang hampir dua tahun ia tinggalkan.”

“Dimana pamanmu sekarang?”

Terlihat agak berubah wajah yang awalnya punya senyum merekah, “Takengon,” jawabnya dengan nada yang sangat rendah.

Pamit orang kampung itu setelah menutup kalimatnya dengan doa kesembuhan bagi si perempuan paruh baya. Sementara sepasang orang tua dan anaknya yang lemah sudah di dalam rumah. Matahari juga kembali ke peraduan dengan ramah, cahayanya jingga pekat di ufuk barat. Terdengar azan maghrib kemudian. Nisa membuka matanya perlahan dan didapatinya teh hangat dalam gelas kaca di atas meja samping tempat tidurnya.

“Nan…,” ujarnya lagi.

Sepasang orang tua itu, yang dipanggilnya sebagai ayah dan ibu, hendak berwudhu. Tapi sementara mengambil sajadah, kopiah, dan mukena, berbincang mereka dengan agak keras suaranya.

“Jika tidak bersabar hati, ingin sekali aku ini, merajang Nando jika ia pulang. Dibawanya Nisa demi cinta katanya, menikah mereka tanpa kutahu siapa walinya. Lama kucari anakku sendiri yang ternyata ditinggalkan di bukit seorang diri. Dalam rumah ladang yang tak ubah serupa kandang.”

“Bapak, berwudhu-lah, redakan amarah. Nisa sekarang sudah di rumah. Nanti kita bahas itu. Nando harus bertanggungjawab atas sesuatu di sana dan ia butuh waktu. Ibu yakin, tak ada niatnya dalam batin meninggalkan Nisa sementara kita pun tahu betapa ia luar biasa cinta.”

Kembali menetes air dari pelupuk mata ayahnya, terdengar serta isak yang sesak.

Nisa tak mampu berbuat sesuatu. Dibiarkannya malam menjemput senja dan bulan menyambangi jendela. Belum purnama. Ia ingat terakhir kali ia dan Nando bertemu, penuh bulan dengan sinarnya terang kala itu. Nando pamit mencarikan uang untuk ongkos mereka ke luar daerah. Tapi sebelum lelaki itu pergi, jatuh gelas kopinya dari tangan Nisa dan pecah. Nisa merasa tak tenang dalam hati, tapi Nando berkata ia harus pergi. “Tunggulah abang kembali,” bisiknya dalam balutan malam.

Nisa membenamkan wajah di bantal. Basah kemudian bantal itu oleh air matanya yang kian deras tak tertahan. Menoleh sedikit kepalanya ke luar jendela. Tertutup matanya demi bulan oleh bantal yang tebal. Tidak akan purnama dalam semalam saja. Dibiarkan demikian. “Purnama denganmu entah kapan lagi aku menemukannya, jadi biarlah kutatap bulan dibalik bantal, tidak sempurnanya sudah bukan sesuatu yang mesti jadi sesal. Dimanapun kau berada, baik-baiklah. Aku pasti menunggumu di rumah.”

Dipandangi bulan dan menggumam beberapa kali, nama Nando sudah jadi mantra atau doa, hingga akhirnya dapatlah ia lelap dalam tidurnya. Di luar, dari corong musala, sebentar lagi azan subuh akan terdengar. Sedang di atas bukit, rumah ladang tiba-tiba sunyi dari senandung doa dan ayat-ayat yang setiap malamnya selalu dibaca. Awan kehilangan rindu si perempuan yang sering tak terbendungkan, bulan dan bintang-bintang kehilangan alasan untuk bermalas-malasan menghias malam, sebab rindu si perempuan sudah menjadi hiasan tak terkalahkan sepanjang jaman. *

 

Batusangkar, 14 Mei 2019

Maya Sandita. Lahir di Pekanbaru 1994. Lulusan Prodi Seni Teater ISI Padang Panjang (2019). Saat ini tergabung dalam FPL (Forum Pegiat Literasi) Padangpanjang, KOPI TANDA (Komunitas Penulis Tanah Datar), PCRBM (Penulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau), Bagindo Rajo (Komunitas Pendongeng Batusangkar), Street Theatre dan Teater Ode Batam. Beberapa karyanya pernah diterbitkan di beberapa antologi cerpen dan beberapa media massa. Pada 2018 juara 1 Lomba Menulis Cerita Rakyat Berbahasa Minangkabau tingkat provinsi Sumbar. Buku puisi pertamanya, Ruang Tunggu, segera terbit.