Cerpen Erwin Setia (Koran Tempo, 25-26 Mei 2019)

Cerita Dua Robot dan Pemuda Penyendiri ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempow.jpg
Cerita Dua Robot dan Pemuda Penyendiri ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo 

Cerita ini ditulis oleh seorang robot dengan nomor kode ES-2033-GRK. Ia robot pintar yang bagian kepalanya sudah dijejali beberapa keping cip berisi cerita-cerita pendek dan panjang gubahan sastrawan dari berbagai belahan dunia. Dari Salman Rushdie sampai pengarang kurang terkenal asal Kepulauan Faroe, Sebastian Ebissie. Begini ceritanya:

Aku melihat siaran televisi pagi ini penuh dengan berita Raja Eskar menangis di dalam istananya. Ia menangis tanpa henti sepanjang beberapa hari terakhir dan membuat istri dan para selirnya gelisah. Anak-anaknya gelisah. Para menterinya gelisah. Pengawal-pengawalnya gelisah. Seluruh rakyatnya gelisah.

“Kau tahu kenapa dia menangis terus-menerus?” tanya Rom, yang tiba-tiba saja berada di sebelahku. Ia duduk menyilangkan kaki sambil menggenggam sebuah gelas setengah isi dengan asap mengepul. Aku heran mengapa ia tak punya menu minuman selain teh ekstra panas yang membuat suhu tubuhnya meningkat drastis. Dan membuatnya cerewet bukan main.

Kugidikkan bahu. Penyiar itu juga barusan mengatakan penyebab tangisan Raja Eskar masih terus diselidiki. Sebagai pemirsa, aku tak mungkin lebih tahu daripada penyiar, apalagi tempat istana Raja Eskar sangat jauh dari sini. Istana Atlaham, kudengar-dengar, berjarak hampir tiga ribu kilometer dari rumahku. Rumah yang kutinggali bersama Rom dan Gustam.

“Dia menangis karena dia tidak bahagia. Begitu saja tidak tahu. Dasar bodoh!” Rom mengucapkan itu sambil terkekeh-kekeh. Cairan memuncrat dari mulutnya dan mengenai tubuhku. Panas dan lengket. Serta-merta aku bangun dan mencengkeram lehernya.

“Aku tidak bodoh! Gustam malah selalu bilang bahwa aku adalah robot terpintar yang pernah ada. Kau yang bodoh. Dasar robot tidak berguna!”

Aku mendorong tubuhnya sampai terjatuh. Bunyi benturan benda keras terdengar nyaring. Tubuh besinya membentur lantai. Ia tampak lunglai. Namun, segera ia bangkit dan menyambarku. Ia melancarkan pukulan dan tendangan dengan penuh kekakuan. Aku membalasnya dengan pukulan dan tendangan serupa. Perkelahian tak terhindarkan. Suara di televisi menjadi tak kedengaran lagi karena keributan antara aku dan Rom sangat gaduh. Desing-desing. Denting-denting. Debum-debum. Aku telah berhasil mematahkan sebelah kaki Rom ketika Gustam keluar dari kamar dalam keadaan semrawut dan berkata terheran-heran.

Advertisements