Cerpen Wa Ode Mustika Daratu (Rakyat Sultra, 20 Mei 2019)

Tentang Luka ilustrasi Istimewa.png
Tentang Luka ilustrasi Istimewa

“Hal terindah apa yang ingin kau rasakan sepanjang hidupmu?”

“Mengingatnya! Mengingat adalah rasa terindah yang ingin kunikmati sepanjang hidup.”

“Hanya itu?”

“Ya, karena aku tak tahu cara melupakannya.”

Itu jawabanku jika seseorang akan bertanya tentangmu. Mungkinkah aku bisa melupakan dengan sempurna? Sementara setiap kedip matamu terus bermain di kelopak mataku. Renyah tawamu yang lembut membelai gendang telingaku. Cara menatapmu yang bijak selalu membuatku harus meyakinkan diri bahwa kedua kakiku benar-benar sedang berpijak pada tanah.

Saat rasa tak mampu untuk merelakan, akan selalu ada hal yang membuat kita untuk terus bertahan dalam ketidakpastian. Rasa yang membuat kita tak pernah rela untuk berhenti. Sungguh, melepasmu dari benakku sangat sulit kulakukan. Terlebih lagi, media sosial yang selalu bercerita tentangmu melalui segala postingan itu, justru membuat ingatan tentangmu semakin melekat sempurna.

Kau adalah ketidakmungkinan itu dan dalam setiap langkah yang kau lakukan tanpa sadar telah menjadi pembatas bagi rasa yang aku miliki. Aku memahami bahwa tak semua harus tergenggam. Termasuk dirimu. Selalu ada cerita yang setiap harinya terangkai. Kau tahu? Dalam setiap detiknya semua tentangmu.

Waktu bercerita. Seperti halnya kemarin saat kau dan aku begitu terlihat dekat. Mungkin bagimu itu hanya sekadar bercengkrama layaknya seorang teman. Namun mengapa aku selalu saja menganggapnya lebih. Entah mengapa aku selalu berpikir bahwa kau juga nyaman bersama denganku. Saat itu, untuk pertama kalinya juga aku tertawa lepas bersamamu dan aku bahagia. Bagaimana aku harus berhenti mencintai dan belajar untuk merelakanmu? Terkadang, aku merasa lelah dengan rasa yang aku miliki. Mengapa seakan sangat sulit hanya untuk merelakanmu bersamanya. Aku tahu, kau telah berusaha menggenggam kembali hati yang pernah kau miliki dan kau tengah memperjuangkannya. Logikanya, mengapa aku masih saja mengharapkanmu sementara luka tepat ada di depan mataku. Lantas dengan semua luka itu, mengapa rasa yang aku miliki seakan abadi dan tak akan pernah goyah?

Advertisements