Cerpen Yudhistira Sukatanya (Fajar, 19 Mei 2019)

Suara yang Memanggil-manggil ilustrasi Fajarw.jpg
Suara yang Memanggil-manggil ilustrasi Fajar 

Saban jelang ramadan, aku selalu teringat padanya. Pak Bilal – begitu dia akrab dipanggil. Muazin yang telah mengabdikan sebagian hidupnya pada masjid Istiqomah di kompleks perumahan kami. Saat Ramadan seperti ini, aku merindukan kumandang azannya.

Suara azan yang dahulu selalu dikumandangkannya melalui Toa di puncak menara masjid, terdengar merdu mendayu-dayu sampai jauh. Setia memanggil-manggil jamaah setiap waktu salat tiba. Bertahun, dengan tertib ia menjalankan tugasnya.

“Cara menyetel suara sound system masjid, harus baik, agar menimbulkan rasa cinta dan simpati bagi siapa pun yang mendengar suara dari rumah ibadah kita, mesti diatur dengan terampil agar tidak akan terdengar suara kresek atau berdenging yang dapat menimbulkan antipasti,” kata Pak Bilal suatu ketika. Ia memang piawai menyetel peralatan sound system masjid dengan takaran yang pas.

Suara dari loudspeaker masjid memang pernah menjadi hal yang dianggap mengganggu masyarakat. Boleh jadi komplain demikian tidak akan terjadi andai speaker Toa masjid distel dengan baik dan hanya khusus digunakan untuk azan lima kali sehari saja. Namun kenyataannya, soundsystem masjid sering dipakai secara semaunya, mulai dari menyuarakan tilawah di pagi buta, pengumuman kegiatan dan ceramah majelis taklim, zikir menjelang magrib, sampai teriakan sahur sejak masih sangat dini di bulan puasa.

Seperti pernah diberitakan bahwa ada seseorang bernama Husain—Ia muslim yang mempermasalahkan suara lantang Toa mesjid. Husain menggugat ke pengadilan puluhan Toa masjid di kotanya yang mengumandangkan ceramah atau bacaan Alquran melampaui 30 menit sebelum azan magrib dan subuh. Husain jadi berita karena nyaris tewas diamuk massa.

Mungkin sebagian orang mengira bahwa berdoa dan berzikir dengan menggunakan loudspeaker dengan setelan suara lantang adalah cara tepat meningkatkan kesalehan dan menyebarluaskan syiar agama agar didengar. Padahal Allah tegas menyuruh kaum muslimin untuk berzikir dan berdoa kepada-Nya dengan suara pelan dan khidmat.

Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (Al-A’raf:205)

Advertisements