Cerpen Ranang Aji Sp (Jawa Pos, 19 Mei 2019)

Mitoni Terakhir ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Mitoni Terakhir ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

DI halaman belakang rumah peninggalan suamiku, aku duduk sendiri, memandang pohon randu alas yang meranggas. Kukira, waktuku sudah akan tiba. Aku tidak tahu kapan itu terjadi. Tapi, cepat atau lambat, malaikat maut itu pasti akan datang menjemputku. Aku akan menyusul para leluhurku untuk berkumpul bersama. Kematian adalah kepastian buat siapa saja, bukan? Apalagi perempuan seusiaku. Sebelum ajal, aku hanya ingin merasakan, menyaksikan, dan memberikan berkah pada darah dagingku yang terlahir ke bumi agar tumbuh sehat sebagai jiwa terberkati. Seperti para leluhurku juga memberkatiku di masa lalu.

Dari rahimku ini, telah lahir tujuh anak perempuan. Dan, setiap anak telah melahirkan anak-anak mereka, para cucuku yang lucu. Kecuali anak bungsuku, Setyaningsih. Ia baru dua tahun menikah dan belum mendapatkan anak. Semua anak dan cucuku mendapat restu dan berkah dari orang tua dengan cara yang sama. Eka Yuningsih, anak pertamaku. Ketika ia mengandung anak pertama, semua menyambutnya dengan bahagia. Ketika usia kandungannya menginjak tujuh bulan, seperti adat Jawa yang terberkati, kami—ayah dan ibunya—menggelar acara mitoni. Demikian pula anak-anakku yang lain.

Dalam setiap hajatan itu, semua kerabat datang, semua tetangga hadir. Juga, anak-anak sekitar yang ceria menonton prosesinya. Mereka tertawa sembari berdesak-desakan di halaman. Terkadang mereka ikut melihat bagaimana kami mengguyur tubuh anakku dan cucuku yang masih di dalam rahimnya dengan air bunga. Tentu saja aku tahu anak-anak itu menginginkan dawet ayu dan makanan yang kami sediakan untuk hajatan. Aku membiarkan mereka ribut, gaduh di antara suara gending Jawa yang mengiringi. Terkadang, aku berpura-pura marah, meminta mereka diam dan menunggu di latar. Sambil kutanya, sudah bawa kereweng [1] belum.

“Sudaaah,” jawab mereka serempak. Namun, semua upayaku agar mereka diam sia-sia belaka. Mereka, para makhluk kecil nan berisik itu, selalu tak tertaklukkan oleh siapa saja, kecuali oleh dawet ayu. Dan perut mereka yang seluas langit dan sedalam lautan tak juga kunjung puas. Meskipun bermangkuk-mangkuk dawet ayu dan jajanan sudah masuk. Ah, dasar anak-anak.

Advertisements