Cerpen Haryo Pamungkas (Radar Banyuwangi, 19 Mei 2019)

Dialog di Antara Pintu ilustrasi Radar Banyuwangiw.jpg
Dialog di Antara Pintu ilustrasi Radar Banyuwangi

Azan subuh sayup-sayup masih terdengar. Masih sangat pagi. Tapi seseorang sudah mengetuk pintu kamar kosku; memanggil-manggil dari luar,

“Hallo. Hallo. Bung yang di dalam. Hallo. Boleh saya masuk?”

Mataku belum sepenuhnya terbuka, masih terlalu pagi dan memangnya pagi-pagi begini siapa yang ingin bertamu, atau siapa pula yang sudi menerima tamu? Pagi ini waktu tidurku jelas terpotong tapi aku berusaha mengingat-ingat: apakah aku ada janji, atau apapun yang mengundang seseorang datang sepagi ini? Dan rasa-rasanya aku belum pernah mendengar suara itu sebelumnya. Atau barangkali pernah tapi aku lupa. Siapa?

“Hallo, boleh saya masuk, Bung? Hallo …” Ia terus mengulang-ulang tanya menyebalkan itu sambil tetap menggedor-gedor pintu dari luar. Aku beranjak dari tempat tidur. Agak malas memang, tapi rasa penasaran cukup untuk membuatku bergerak.

“Siapa di luar?” Aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu—meski langkahku cukup malas dan sempoyongan sebab mataku belum sepenuhnya lepas dari rasa kantuk dan berat.

“Nah. Lama juga ya Bung bangun ini … boleh saya masuk dulu? Boleh ya? Boleh dong?”

“Saudara siapa dan ada keperluan apa datang sepagi ini?”

“Hmmm, apa saya tidak boleh masuk dulu, Bung?”

“Tentu saja tidak boleh, saya tidak mengenal dan belum mengerti keperluan Saudara!” jawabku agak keras, meski suaraku tetap berat sebab kantuk masih melekat. Orang asing ini cukup menyebalkan juga, batinku, cukup untuk dicap sebagai perusak pagiku. Kulirik jam dinding; jarum jam menjorok ke arah 5. Astaga, masih sangat pagi!

Agak lama orang asing ini tak menjawab. Dari balik pintu kudengar ia bergumam kecil, seperti sedang menimbang-nimbang dengan dirinya sendiri. Aku masih berdiri, menunggu.

“Hmmm …”

“Tolong segera dijawab, ini masih sangat pagi; jadi kalau Saudara hanya iseng, lebih baik jangan kepada saya! Saya laporkan polisi nanti!”