Cerpen Adam Yudhistira (Koran Tempo, 18-19 Mei 2019)

Sepucuk Revolver di Bawah Pohon Mapel ilustrasi Koran Tempow.jpg
Sepucuk Revolver di Bawah Pohon Mapel ilustrasi Koran Tempo

Charles si Kepala Sipir berkata masa hukuman Russel akan segera berakhir. Dua puluh tahun berlalu nyaris tanpa terasa. Kata “pulang” menjadi sesuatu yang menakutkan. Hukuman yang dijalaninya sudah terlampau lama, hingga ia telanjur nyaman dan tak ingin pulang. Namun peraturan adalah peraturan. Tepat satu minggu kemudian, sebuah surat pernyataan bebas diterima dan itu artinya; bencana.

Tak lama setelah melewati pintu gerbang besi dan keluar meninggalkan halaman penjara, Russel mendapati suasana hatinya semakin rusak oleh deru kendaraan yang berlalu-lalang. Ia menoleh ke sekeliling, berusaha mencari tahu arah mana yang akan dituju. Sebuah bus dengan lambung warna biru berhenti, tepat setelah ia merasa yakin kaleng besar itulah yang akan mengantarnya pulang.

Bus mengambil rute Hamlock Avenue, melewati taman kota berpayung pepohonan rimbun, kompleks pertokoan, pemakaman umum, dan berhenti di pos terakhir kawasan West Side. Russel turun dengan perasaan bingung yang ganjil.

“Apakah kau keberatan jika aku tinggal di sini lebih lama?” begitu kata Russel pada Charles sesaat sebelum ia meninggalkan kamarnya yang bernomor 231.

“Keluarlah dahulu, kemudian pecahkan kepala seseorang, kupastikan kau akan kembali ke kamarmu,” sahut Charles terbahak. Ia memeluk Russel, memberinya ucapan perpisahan penuh basa-basi. “Usahakan jangan kembali ke sini, Bung.”

“Entah, ya,” jawab Russel lesu. “Aku akan merindukan tempat ini.”

Sekarang, Russel sedang berdiri di hadapan sebuah rumah yang samar-samar muncul dalam ingatannya yang rapuh. Dan, ia merasa asing. Perasaan asing itu sebenarnya tak perlu ada. Sebab, tidak banyak yang berubah pada rumah itu-seolah-olah rumah itu telah terperangkap dalam stoples waktu.

Awan mendung mulai menaburkan butiran hujan. Russel tetap berdiri di luar pagar, memperhatikan pohon mapel yang tumbuh di halaman. Bentuknya begitu elok, kerimbunan daunnya mengembang sempurna, persis rok seorang balerina. Daun-daunnya berwarna kekuningan dan tampak tua.

Advertisements