Cerpen Pahrus Zaman Nasution (Analisa, 15 Mei 2019)

Menggapai Istigfar ilustrasi Alwi - Analisaw.jpg
Menggapai Istigfar ilustrasi Alwi/Analisa

Ramadhan tahun ini, tahun kelima aku resmi menjalani hidup berumah tangga dengan istriku, Rahma. Kehidupan rumah tangga kami tak berjalan dengan harmonis. Kondisi itu disebabkan oleh perbedaan usia kami yang berselisih 10 tahun. Rahma yang berusia 23 tahun masih menampilkan karakter keremajaan yang suka berleha-leha, apalagi dia berasal dari keluarga kelas ekonomi melangit. Sementara aku yang telah menginjak bumi 33 tahun lebih mengedepan kesederhanaan.

Aku tak pernah bermimpi menjadi suami Rahma. Lantaran aku hanya seorang supir keluarga Rahma, yang bertugas mengantar ayah Rahma, dokter Hidayah berpraktik di berbagai rumah sakit. Rahma pun tak pernah menunjukkan aroma asmara di mataku. Hubungan kami sebatas antara supir dan majikan.

Suatu kali, dokter Hidayah berbicara dua pasang mata denganku. Muncul prasangka jelek dalam kepalaku, kalau aku bakal didepak dari posisi sebagai supir keluarga. Tapi apa kesalahan yang telah kuiakukan kepada keluarga dokter Hidayah? Menyelinap sebuah pertanyaan di kepalaku. Khayalan mulai menerawang jauh untuk mencari pekerjaan baru. Aku tidak boleh menjadi sampah masyarakat, apalagi menjadi beban keluarga.

Setelah bertemu dengan beliau. Aku benar-benar tersudut. Aku sama sekali tidak menyangka barisan kalimat yang diucapkan dokter Hidayah kepadaku. Aku pun tidak tahu, apakah komitmen yang disampaikannya kepadaku merupakan rahmat, atau penistaaan terhadapku. Aku tak mampu berkata apapun di hadapan dokter Hidayah. Aku hanya bisa terkulai lemah. “Haruskah orang tak berdaya seperti aku menjadi pelampiasan dosa,” kalimat lirih membalut hatiku.

“Saya tidak memaksamu, Irwan. Kau boleh bersikap dengan keinginan hatimu,” kata ayah Rahma.

“Saya tak mau aib ini tercium sampai keluar. Kamu cukup menutup aib ini sampai anak Rahma lahir. Setelah itu kamu boleh menceraikannya,” sambung ayah Rahma penuh pengharapan.

“Anu, Pak! Maaf, Pak, kan laki-laki yang menggauli Rahma itu mau bertanggung jawab?” tanyaku.

Advertisements