Cerpen Adam Yudhistira (Rakyat Sultra, 13 Mei 2019)

Daun-Daun Pahala ilustrasi Rakyat Sultraw.jpg
Daun-Daun Pahala ilustrasi Rakyat Sultra

Apabila rembang petang sudah menjelang, Mak Rubay akan terlihat di depan surau kampung Lubuk Kasui. Ia memandangi pohon angsana yang tumbuh di tengah halaman surau itu dengan mata lelah dan basah oleh air mata. Namun apa sesungguhnya pasal yang membuat perempuan tua itu menangis saban kali memandang ke pohon itu, tak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Sebagai orang baru di kampung ini, aku hanya tahu sedikit tentang dirinya. Orang-orang berkata bahwa Mak Rubay sudah tak waras sejak suaminya meninggal dua tahun yang lalu. Namun aku sendiri tak begitu yakin dengan tudingan semena-mena seperti itu. Di mataku, perempuan itu justru seperti sedang memendam kesedihan yang teramat dalam dan tak mampu ia ungkapkan.

Selama berbulan-bulan ini aku menyimpan rasa penasaran akan perilaku ganjil yang diperlihatkannya. Ia memunguti helai demi helai daun angsana di halaman surau itu sampai betul-betul bersih tak bersisa dan baru pulang ke rumahnya bila azan magrib sudah tiba. Kebiasaan itu dilakukannya dengan suka rela dan tak mengharapkan imbalan apa-apa.

Sore ini, selepas salat asar, aku bermaksud menemui Mak Rubay untuk menuntaskan rasa penasaran yang selama ini kutahan-tahan. Ada dorongan kuat di hatiku untuk membuktikan pada orang-orang di kampung ini bahwa yang mereka tudingkan itu tidaklah benar.

Mak Rubay sedang duduk di beranda surau saat aku menghampirinya. Ia menghadap ke pohon angsana dengan mata menerawang. Tak terlihat sehelai pun daun angsana atau kotoran lain di permukaan tanah halaman itu. Daun-daunnya telah teronggok rapi di tempat sampah yang ada di sudut halaman, menanti untuk dibakar.

“Lelah, Mak?” sapaku lembut.

Perempuan tua itu menoleh sekilas, lalu tersenyum sambil menggeleng. Ia nenegakkan posisi duduknya dengan menyandarkan punggung ke tiang beranda. Ia tampak kikuk. Selama ini memang tak pernah ada orang yang mau menegurnya. Mungkin keyakinan bahwa Mak Rubay gila telah membuat orang-orang di kampung ini enggan berbicara dengannya.

“Tak banyak daun jatuh hari ini,” jawabnya sedih, seolah-olah daun-daun itu amat berarti bagi dirinya.

Advertisements