Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 12 Mei 2019)

Ziarah Laut Selatan ilustrasi Hangga - Suara Merdekaw.jpg
Ziarah Laut Selatan ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

“DI pantai ini ombak akan menghapus seluruh rasa sedihmu. Dan di pantai ini ombak membawa rindumu kepada orang-orang yang telah jauh meninggalkanmu.” Kalimat itu masih terngiang dalam ingatanku.

Kalimat itu Ibu ucapkan ketika aku berumur lima tahun. Dulu, Ibu sering mengajakku ke Pantai Parangtritis. Di sana ia seolah melampiaskan rasa sedih dan rindu kepada ombak. Apalagi bila memasuki awal Ramadan, ia akan datang dengan sekantong anyaman bambu berisi bunga. Ia membawa bunga itu untuk dia larung ke laut. Bungabunga itu ungkapan atas rasa rindunya kepada Ayah yang meninggal.

Ayah secara langsung tak pernah aku kenal sejak kecil. Aku mengenal Ayah hanya dari cerita Ibu. Ibu mengisahkan, Ayah adalah pekerja keras yang sangat bertanggung jawab. Ia rela melakukan apa saja demi keluarga. Ia bahkan akan menukar nyawa dengan orang-orang dia cintai. Demikian juga pada hari durja itu. Ayah yang bekerja sebagai nelayan nekat menjalankan perahu untuk mencari ikan. Nasib sial menimpa pria itu. Ombak membawa dia pergi. Ia tak pernah kembali.

“Semoga kelak ombaklah yang membawa Ibu, seperti ayahmu,” ujar Ibu setiap kali menutup cerita.

Demikianlah. Aku tak mengerti mengapa Ibu dulu selalu mengatakan itu. Aku mengira kalimat itu kiasan agar membuat ceritanya dramatis. Namun ternyata kalimat itu doa bagi Ibu. Ia berharap pergi bersama ombak seperti yang terjadi pada Ayah. Dan seperti harapan Ibu, tepat pada awal Ramadan, ketika aku berumur enam tahun, ia memutuskan menjadi tenaga kerja bantu di negeri orang, dan kapal yang membawanya karam. Ia benar-benar pergi bersama ombak.

***

DUA kejadian menyedihkan itu seakan menjadi batu penanda kepedihan dalam hidupku. Batu kesedihan itu bahkan terus mengeras dan menyesaki dadaku, hingga aku besar kini. Maka seperti Ibu dahulu, aku sering mendatangi Pantai Parangtritis. Aku biasanya menekur untuk melabuhkan bunga dan doa kepada dua orang yang aku cintai itu. Dua orang yang telah pergi bersama ombak. Pun ketika memasuki awal Ramadan, aku berziarah ke tepi pantai. Begitulah. Waktu orang-orang berduyunduyun menuju makam, aku malah menepi di bibir pantai. Di sana aku melabuhkan seluruh rasa sedih dan rinduku kepada Ayah serta Ibu.

Advertisements