Cerpen Zainul Muttaqin (Jawa Pos, 12 Mei 2019)

Surga Simpanan ilustrasi Budiono - Jawa Posw.jpg
Surga Simpanan ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

Seorang perempuan dengan gincu merah serupa lampion berdandan di depan cermin. Sesekali ia melirik jam dinding. Bulan tenggelam ke dalam pelukan awan. Jam sebelas lewat. Makin jarum panjangnya bergeser, makin cepat pula perempuan itu untuk segera menyelesaikan dandanannya. Sudah lima belas menit ia merapikan tubuhnya, mengenakan rok pendek di atas lutut dan membiarkan belahan dadanya terbuka. Secepat mungkin ia harus berangkat, tanpa bilang hendak kemana pada bocah sepuluh tahun yang berdiri di belakangnya sejak tadi.

Perempuan itu melangkah keluar, menutup daun pintu pelan-pelan sampai tak menimbulkan bunyi sedikit pun. Dari dalam rumah, Hardi menyingkap gorden, kaca yang transparan memperlihatkan ibunya dijemput seorang lelaki. Kening Hardi berkerut membentuk garis terombang-ambing menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sang ibu dijemput oleh lelaki berbeda setiap malamnya.

Hardi tidak pernah sekali pun mendengar dongeng sebelum tidur sebagaimana kerap dituturkan oleh seorang ibu kepada anaknya. Ia meringkuk kesepian seorang diri di dalam kamar. Hardi tidak pernah tahu siapa nama ayahnya, apalagi mengetahui seperti apa rupa sang ayah. Semula Hardi mengira seorang lelaki yang datang menjemput ibunya ke rumah tak lain adalah ayahnya sendiri, tetapi perkiraan itu meleset. Tidak mungkin ia punya banyak ayah.

Hardi terlentang di atas ranjang. Dalam pejam matanya Hardi mendadak ingat saat pertama kali bertanya kepada sang ibu perihal siapa ayahnya dan dimana keberadaannya. Ia sungguh ingin menemui lelaki itu dimana pun berada. Pertanyaan Hardi malah dijawab dengan tamparan keras yang mendarat di pipinya. Wajah perempuan itu mengeluarkan api. Terjatuh ke lantai pandangan Hardi. Bocah itu mengatur laju napasnya. Degup jantungnya bersahutan dengan detik jam dinding.

Kemurkaan Nima, ibu Hardi itu bukan tak beralasan. Ia terbaring sakit selama enam puluh hari seusai melahirkan Hardi. Sebelum itu juga, Mak Murken, dukun beranak harus mengurut perutnya yang buncit sampai ia harus merasakan sakit yang teramat karena posisi bayinya sungsang. Jadi, wajar saja bila Nima murka dengan pertanyaan Hardi perihal siapa lelaki yang menanamkan janin di rahimnya itu.

Advertisements