Cerpen Rismawati (Serambi Indonesia, 12 Mei 2019)

Senja di Pantan Cuaca ilustrasi Tauris Mustafa - Serambi Indonesiaw.jpg
Senja di Pantan Cuaca ilustrasi Tauris Mustafa/Serambi Indonesia 

ENTAH mengapa setiap musim kabut, awan, dan hujan perempuan paruh baya itu enggan masuk ke rumahnya. Dia hanya akan membuka pintu dan jendela rumahnya. Duduk di teras rumah sambil tersenyum menyaksikan kabut, awan, dan kemudian berubah menjadi hujan. Dia membiarkan semuanya basah. Sejuk tidak mengurungkan niatnya. Dia tetap saja duduk, tersenyum, dan sesekali jangin Gayo didendangkannya. Dia berbahagia melakukannya. Dia menunggu.

Kudenang-kudenang I Pematang, terbayang-terbayang waktu senye”

Dia Serune, bidan desa  di Pantan Cuaca; mengabdikan dirinya demi secercah harapan di Pantan Cuaca. Desember mendatang dia maktubkan sebagai hari bahagia bersama kekasihnya –  matang sekali. Kekasihnya yang berjarak dengannya sesekali datang menyampaikan rindu, dan akan kembali lagi menunaikan janjinya pada pujaan hati.

Sayangnya prilaku Serune mulai aneh. Para ibu hamil menjadi hilang kepercayaan untuk sekadar memeriksakan kandungan padanya. Para gadis pun mulai enggan bertanya meski sekadar  perihal terlambat bulan.  Kini dia hanya menyaksikan perputaran waktu, kabut, awan dan kemudian hujan di teras rumahnya. Dia selalu tersenyum, sambil berkata. ”Sabarlah, tunggu sampai kabut di Pantan Cuaca ini lenyap, kau boleh  tak mencintaiku lagi.” Namun seketika dia histeris lagi, bahwa, “Kabut Pantan Cuaca itu tidak  akan pernah hilang”.

Serune dan Pantan Cuaca adalah sejuta keindahan. Orang-orang menyebutnya negeri kayangan. Seindah kabut dan awan yang mengendap perlahan dari puncak perbukitan hingga ke  permukaan desa, beranak sungai hingga tampak berarak berubah menjadi air yang bening dan memantulkan cahaya matahari bundar lalu koyak karena aliran angin yang deras. Belum sempurna penuh cahaya matahari, kabut dan awan telah datang lagi hingga senja tiba.

Pantan Cuaca, kini sesedih apa perasaan Serune  menyaksikan awan dari balik jendela rumahnya. Sesekali dia menyaksikan satu per satu minibus melintas di jembatan besi panjang, sebelum kemudian merayapi bukitan berliku mendaki hingga mencapai puncaknya. Dia masih setia menunggu meski kini di negeri kayangan itu Serune menjadi bidadari yang kehilangan jejak. Sepanjang angin akan berembus, selalu ada cerita tentang awan yang berarak di Pantan Cuaca juga tentang wanita kesepian, senja yang menunggunya dalam pelukan awan, lalu keheningan pun terjadi meski sesungguhnya derit mobil dan motor berkejaran dengan asap knalpot ketika melintasi jembatan besi  hingga terdengar menderu ke batas langit, puncak pendakian Pantan Cuaca. Di sana pula mantra pengasih dihembuskan.

Advertisements