Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 12 Mei 2019)

Selawat Sebutir Beras ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Selawat Sebutir Beras ilustrasi Tribun Jabar

Tidak pernah Aminah mengeluh, selalu ia sambut dengan sesungging senyum setiap kali suaminya pulang memulung. Melihat keringat membasuh tubuh suaminya membuat Aminah berpikir bahwa betapa sang suami memikul tanggung jawab yang berat. Aminah meraih tangan suaminya, menciumnya dengan lembut.

Aminah mengelus perutnya yang sedang hamil lima bulan. Lampu teplok yang disandarkan di atas dinding tertiup angin dari perbukitan. Wajah Aminah agak pucat. Suaminya, Darso itu keluar dari kamar membawa sesuatu dalam genggaman tangannya. Laki-laki itu memberikan uang dalam genggamannya itu kepada Aminah. Hanya dua puluh ribu. Tak pernah Darso memberikan uang melebih jumlah itu, karena Darso hanyalah pemulung. Tidak jelas berapa penghasilannya setiap hari. Tidak pasti juga Darso akan selalu memberi uang setiap hari pada sang istri.

Karena itulah, Aminah selalu berusaha mengatur keuangannya dengan baik. Bulir bening jatuh dari kelopak mata Aminah saat diterimanya uang dua puluh ribu itu dari tangan sang suami. Darso heran, kening laki-laki itu berkerut membentuk garis terombang-ambing melihat istrinya meneteskan air mata.

“Kenapa kau menangis? Apa uang itu terlalu sedikit?” Pertanyaan Darso dijawab dengan gelengan kepala oleh Aminah.

“Lalu?” Darso kembali bertanya. Aminah menjawab lirih, “Tidak apa-apa.”

Lima menit lagi adzan magrib akan segera berkumandang dari masjid sebelah rumah mereka. Aminah pergi ke dapur. Ia mempersipakan hidangan buka puasa. Pasangan suami-istri itu memang selalu mengerjakan puasa sunnah, terlebih saat Aminah mengandung. Tidak ada yang istimewa di atas meja makan itu, hanya tersaji ikan asin dan nasi putih. Bagi mereka hal itu sudah lebih dari cukup. Keduanya selalu bersyukur. Mungkin itulah alasan mengapa pasangan suami-istri itu tak  pernah merasa kekurangan.

“Apa yang kau bacakan saat menanak nasi?” Pertanyaan ini baru sempat diajukan oleh Darso kepada istrinya. Selama ini Darso sering melihat istrinya membaca sesuatu setiap kali perempuan itu memasukkan beras ke dalam panci. Aminah tersenyum.

“Saya hanya baca Selawat,” jawab Aminah seraya menyandarkan tubuhnya pada kursi. Keduanya duduk menunggu adzan magrib.

Advertisements