Cerpen Haryo Pamungkas (Banjarmasin Post, 12 Mei 2019)

Selamat Tinggal ilustrasi Rizali Rahman - Banjarmasin Postw.jpg
Selamat Tinggal ilustrasi Rizali Rahman/Banjarmasin Post 

Halus dan hangat katanya sore itu. Suara yang perlahan dibisikkan dan kemudian akan tinggal selamanya dalam ingatan masa silam.

“Aku akan pergi,” lanjutnya, “meski nyatanya aku tak pernah datang dan tak beranjak ke mana-mana.”

Sekali lagi, di Jembatan Kembar yang membelah Sungai Bedadung di Kota Jember, akan tiba waktu yang berhenti sejenak, menepi, mengawasi diorama perpisahan yang sebentar lagi akan terjadi di tempat ini.

“Jangan lagi berpikir soal keabadian, atau soal mimpi dan khayalan yang samar-samar. Kita tidak sedang hidup dalam cerita-cerita dongeng…”

O, benarkah? Meski dalam khayalan ternyata keabadian hanya sebatas angan-angan?

***

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, setiap sore, akan selalu ada laki-laki tuli yang berjalan pelan pada tepi Jembatan Kembar. Setiap pukul 5 sore ketika langit bercorak kemerahan memungkinkan setiap pikiran-pikiran untuk merenung dan terbang ke masa silam. Tak peduli meski hujan, dalam bayangannya senja akan tetap hadir dan masuk dalam relung-relung kepergian. Menumbuhkan kembali semua ingatan pada seorang wanita yang berbisik pada telinganya kemudian berjalan pergi kala itu.

“Bisakah kita berbicara soal apapun? Soal malam yang merenggut senja atau soal kupu-kupu yang manis?”

Tentu saja bisa…

Tapi laki-laki itu tak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

“Kadang aku suka berpikir, untuk apa Tuhan menciptakan bunga jika akhirnya harus dipetik oleh tangan-tangan manusia? Untuk apa manusia hidup jika akhirnya saling merusak dan saling benci? Ah, apakah dalam dirimu juga akan timbul rasa benci setelah ini?”

Pertanyaan itu… terlalu sulit.

Apakah setiap pertanyaan memang harus punya jawaban?

“Aku harap bisa mati saat senja. Merenung dalam keabadian dan waktu yang sementara. Jika boleh mungkin kita akan menikah, membuat rumah, dan melengkapi semua kebahagian yang serba setengah.” Kata laki-laki itu dingin.

“Jangan mulai lagi… manusia tak bisa memesan jadwal untuk mati.”