Cerpen Andi Muladettia (Fajar, 12 Mei 2019)

Sang Pelarung Sepi ilustrasi Aan YS - Fajarw.jpg
Sang Pelarung Sepi ilustrasi Aan YS/Fajar

Bapak duduk di ruang tamu dikelilingi keempat anaknya.  Ada hal penting yang ingin disampaikan sehingga merasa perlu memanggil mereka satu per satu melalui telepon.

Sepi menjeda, tak ada yang berani memulai angkat bicara. Hanya helaan napas bapak yang terdengar berat, mungkin seberat hal yang akan diucapkannya.

“Bapak ingin menikah….” Akhirnya bapak bersuara.

Keempat kepala yang sejak tadi menunduk digelayuti  tanya terangkat kaget. Sunyi berubah menjadi keriuhan yang menggigit rasa.

“Apa tidak terlalu cepat,  Pak… ibu baru dimakamkan 7 bulan yang lalu? Kak Meta dengan suara serak mencoba mengingatkan, kesedihan mengambang di nada suaranya. Ketiga anaknya yang lain enggan bicara, lebih memilih menyimak. Takut satu komentar bisa menyinggung hati keduanya.

Bapak tak menjawab, hanya diam mematung. Mungkin  karena memang tak butuh pertanyaan, melainkan sedikit pengertian dari anakanakya. Pertemuan tak berujung. Belum menemukan titik temu. Mbak Meta boleh dikatakan paling reaktif menentang keinginan bapak, meskipun tak terlalu ditampakkannya. Hanya kata tapi…tapi orang tua yang kenyang melihat rupa-rupa manusia, apalagi itu putrinya sendiri sudah tentu dapat menarik kesimpulan. Anaknya tidak setuju. Ketiga putranya, termasuk suamiku masih betah dalam diam, tak memberi keputusan. Meskipun sekilas kulirik, terkadang mulutnya membuka hendak mengucap sesuatu namun urung dia lakukan saat menatap bapak, bibirnya berlahan mengatup kembali.

“Bapak tega, Mas… sungguh tega begitu cepatnya melupakan ibu, mengubur kenangan dan ingin menggantikannya dengan perempuan lain.” kak Meta terisak meluahkan rasa sesak di depan suamiku, kakaknya. Sengaja ia mendatangi kami di kamar karena tak ingin pembicaraan didengar oleh bapak.

Aku tercenung demi mendengar ungkapan rasanya. Harus menyalahkan siapa, bapak ataukah kak Meta? Kakak iparku itu adalah anak perempuan satu-satunya di keluarga bapak, anak kesayangan ibu. Tak bisa disalahkan bila ia paling vokal menolak keinginan bapak. Mengizinkannya menikah sama dengan merelakan semua bayangan tentang perempuan yang paling disayanginya akan memudar bahkan menghilang berganti dengan sosok nyata wanita lain.

Advertisements