Cerpen Tyas W (Republika, 12 Mei 2019)

Recehan Serakah ilustrasi Da'an Yahya - Republikaw.jpg
Recehan Serakah ilustrasi Da’an Yahya/Republika 

Aku terhenyak. Semenit kemudian pikiranku tiba-tiba kembali ke jalan kebenaran. Apa yang sudah aku lakukan? Batin kumenjawab kegalauan atas selintas peristiwa yang baru saja terjadi. Keserakahan ini muncul begitu saja. Bagaimana tidak? Hari ini aku berniat mengirim barang ke sebuah ekspedisi. Di sana, yang biasanya tidak ada tukang parkir, ternyata tak jauh di depan ruko di samping ekspedisi duduk seorang remaja tukang parkir. Tentu saja aku mulai melakukan perhitungan untung dan rugi marketing barang yang akan kukirimkan. Aku tak mau rugi dengan harga yang sudah kutetapkan bersama pembeli. Ya, akan menjadi rugi jika keuntunganku yang dua ribu rupiah jatuh ke tangan tukang parkir. Jadilah aku pura-pura tidak mengindahkannya meski mungkin dia berharap juga recehan dariku. Usai transaksi, aku langsung menggas motor cepat-cepat berlalu pergi tanpa peduli apakah wilayah ekspedisi ini juga bagian dari lahan parkirnya.

Tapi, aneh. Sambil mengendara, hatiku menjadi tak setenang biasanya. Pikiranku tiba-tiba kosong memelas. Seperti seonggok penyesalan yang hadir belakangan. Seharusnya aku tak perlu ragu membubuhkan uang dua ribu rupiah untuk tukang parkir. Barangkali recehan itu memang sudah menjadi rezekinya. Ah, tapi mengapa aku sama sekali tak berkeinginan melakukan hal itu? Justru masih memikirkan untung dan rugi. Hatiku semakin gundah dan terus gelisah. Rupanya kali ini Tuhan benar-benar menegurku dengan ingatan masa lalu. Tentang sepupuku, Edi.

Langkah kaki bocah SMK itu sigap menapak aspal. Melapis seragam sekolah yang masih melekat di tubuh dengan kaos oblong. Meletakkan tas di atas setir butut sepeda ontel milik almarhum bapaknya. Ber jalan-berlari mengejar mobil dan motor yang mulai menepi. Berteriak meniup peluit lalu menanda arah. Dia bersemangat kegirangan meyambut keuntungan. Ya, keuntungan yang ditunggu-tunggu. Upah yang tak seberapa namun sangat berharga meski kadang tak selalu berpihak kepadanya lantaran kendaraan bergeser pada kawan sejawatnya. Tak ada lagi yang harus dilakukan selain mengalah sebab sudah menjadi keputusan lahan bersama. Edi masih menatap masa. Selama jalanan dilalui kendaraan, selama itu pula ladang recehan akan selalu terbuka.

Sungguh tak tampak rona muram di wajah tampannya. Remaja bertubuh tinggi semampai bermata elang tajam itu selalu mensyukuri hari-hari yang dilalui. Kawan-kawan sesama tukang parkir sampai menggumun, selalu meledek agar Edi ikut ajang model iklan otomotif atau penyanyi agar hidupnya lebih mujur. Apalagi, kelincahannya beradu dengan jalanan sangat lihai tak diragukan. Sejak SMP, diam-diam dia mulai turun di perempatan kota. Sayang, bukan untuk memarkir kendaraan, melainkan menghadang kendaraan. Dihadang untuk diperdengarkan nyanyian anak jalanan. Ya, demi recehan yang hanya dengan kemam puan yang saat itu dimiliki, dia tak malu mengamen di pinggir jalan. Sepulang Edi sekolah, Buk Mun girang sekaligus kaget. Girang sebab Edi memberinya seplastik beras untuk dimasak, tapi lantas terkejut dengan tingkah pola anak sulungnya.

Advertisements