Cerpen Sungging Raga (Kompas, 12 Mei 2019)

Malam di Luar Hujan ilustrasi Ledek Sukadi - Kompasw.jpg
Malam di Luar Hujan ilustrasi Ledek Sukadi/Kompas

Malam di luar hujan. Wanita itu berpesan agar kematiannya dirahasiakan. Sungguh permintaan yang membuatku takjub. Bagaimana mungkin seseorang meminta agar sebuah kejadian penting dalam hidupnya, dirahasiakan dari siapapun?

Jangan menolongku, dan jangan beritahu siapapun. Biarkan tubuhku membusuk di sini,” ucapnya ketika napasnya telah tersengal, dan tak lama kemudian tubuhnya benar-benar tak bergerak lagi…

Baik. Kita mundur ke lima belas menit sebelumnya, yakni ketika aku sedang berjalan-jalan di tengah hutan yang terletak tak jauh dari desa. Dalam remang malam hujan, pada sebuah jalan berlumpur yang membelah hutan, tiba-tiba kulihat sebuah mobil berhenti, sorot lampu mobil masih menyala ketika pintu dibuka dan tampak tiga orang keluar menggotong sesosok tubuh wanita.

Aku segera bersembunyi di balik salah satu pohon yang batangnya telah dipenuhi lumut. Kusaksikan bagaimana wanita itu diletakkan begitu saja di atas tanah yang dipenuhi daun-daun kering terendam lumpur, lalu tiga orang itu kembali ke dalam mobil, dan melaju ke arah kegelapan, diiringi suara gemerisik pohon dan hujan. Setelah kupikir situasi aman, segera kudekati sosok tubuh tersebut, yang ternyata masih bernyawa, dan bahkan masih bisa berbicara.

“Bertahanlah Mbak, rumah saya tak jauh dari sini, kita cari bantuan.

Namun wanita itu hanya menatapku, menggelengkan kepalanya, dan mengucapkan kalimat seperti yang telah dikutip di awal cerita ini…

Aku heran. Jika orang-orang tadi adalah pembunuh, tentu mereka bukanlah pembunuh profesional. Wanita ini masih bernyawa, bahkan masih bisa mengajukan sebuah permintaan. Ataukah memang ia sengaja tak dibunuh? Ini juga terlalu riskan, sebab sekilas aku melihat wajah orang yang menurunkannya. Mereka tak memakai topeng, penanda bahwa tak perlu ada yang harus ditutupi.

Advertisements