Cerpen Sri Lima Ratna Ndari (Analisa, 12 Mei 2019)

Makelar ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Makelar ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa

Tinggal di  daerah yang ada orang pintarnya membawa keuntungan tersendiri buat Handoko. Orang-orang yang disebut pintar maksudnya punya kemampuan menafsir mimpi. Mampu mencari barang hilang, menemukan pencurinya, hingga membantu perjodohan seseorang bahkan melihat masa depan.

Semuanya bermula ketika seorang kawan sekolah bertanya tentang peruntungan nasib rumah tangganya. Selalu diwarnai percekcokan dengan mertua, tak pernah merestui bermenantukan dirinya.

“Mertuaku mengguna-gunai kami biar cerai. Kalau ada orang pintar di kampungmu, tolong antarkan aku padanya.”

“Untuk apa? Mengguna-gunai mertuamu biar luluh, begitu?”

“Mau nengok masa depan kami. Langgeng apa tidak.”

Ada-ada saja. Kalau mau langgeng rumah tangga ya akur-akur sama istrimu. Handoko mencoba menasehati kawannya yang lulusan Universitas jurusan Perbankan, tapi tak berhasil kerja di Bank. Malah jadi pengusaha catering karena menikahi putri pengusaha catering paling ternama di kota yang langganannya sampai ke mana-mana.

Karena terus memaksa, Handoko membawa mereka ke orang pintar yang sebenarnya masih ada hubungan keluarga dari garis ibunya. Orang pintar itu masih saudaranya, mereka tak perlu memberi macam-macam hadiah. Cukup uang seadanya dan beberapa benda yang menjadi syarat sebagai media untuk ‘membaca’ masa depan.

Karena hasil penerawan itu mengatakan yang baik-baik tentang masa depan rumah tangga mereka, Handoko diberi imbalan yang mulanya ditolaknya mentah-mentah.

“Apalah kau ini. Tak perlulah memberiku imbalan, kita ‘kan kawan….”

Karena uang itu disorokkan paksa ke dalam saku baju Handoko, dia tak punya kesempatan untuk memulangkannya karena mereka langsung beranjak pergi.

Sejak itu mengalirlah kabar dari mulut ke mulut kawan-kawan Handoko di kota. Kalau butuh jasa orang pintar hubungi saja dia. Seperti semut mengerubungi gula yang tumpah di atas meja, ada saja yang datang ke­pada Handoko untuk dipertemukan dengan orang pintar di daerahnya. Padahal selama ini ia dan keluarganya sama sekali tidak pernah menggunakan ‘kepintaran’ mereka untuk berbagai keperluan, seperti orang-orang di kota itu.

Advertisements