Cerpen Ranang Aji SP (Kedaulatan Rakyat, 12 Mei 2019)

Kematian ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw.jpg
Kematian ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat 

DIA duduk dalam sebuah musala kecil yang bertiang bambu di atas sebuah bukit yang sunyi. Udara malam menyengat atis, sementara kepalanya tunduk menekur dan mulutnya tak berhenti mengguman istigfar. Memohon ampun pada tuhannya. Allah yang menciptakannya dan bersemayam di atas arasy setelah lapis ke tujuh langit yang diciptakan. Hampir selama tiga jam yang dipenuhi emosi yang seperti badai memporakporandakan jiwanya, ia mengenang kematian anak menantunya di tangannya sendiri. Dalam pertobatannya dan penyesalan yang panjang, dengan suara seperti rentetan mantera yang pedih, dalam upayanya mencari rasa damai, otaknya tak kuasa melepas bayangan mata anak menantunya yang menatapnya menjelang ajal dalam tikaman keris bertuah. Ia juga melihat anak putrinya yang menjerit dan merintihkan nama suaminya.

Sebulan telah lewat, ketika Amangkurat II, rajanya, memberinya perintah yang tak bisa ditolak, membunuh semua orang yang dianggap menyimpan bara bahaya bagi kedudukannya sebagai penguasa. Perintah raja, bagaikan perintah Tuhannya Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail. Ia tak mampu menolak. Bukan karena takut menggigil dalam ancaman senjata pada dadanya ñtapi perintah raja adalah perintah tuhan. Dia lebih takut pada pencipta alam semesta yang memberikan amanah pada rajanya agar ditaati, meskipun ia membawa badai duka nan nestapa. Semua perintah itu dilaksanakannya dengan tuntas, disertai rasa perih di hatinya.

Ketika pada akhirnya berhadapan dengan suami dari anak perempuannya, malam itu, dia mengatakan dengan berat hati apa yang diperintahkan raja untuknya. Anak muda dengan kulit cokelat dan rambut ikal, bermata tajam itu menyambut dengan tawa yang menggema pada dinding-dinding ruang, memantulkan rasa atis dan pedih dalam jiwanya. Sementara anak perempuannya kaget dan mengintip pucat dari balik pintu kamar. Raja, katanya, tak saja mewarisi darah yang congkak, tapi juga kegilaan yang gelisah melewati waktu-waktu tidurnya dengan prasangka yang menggoncang kedamaian setiap warganya sendiri setelah pemberontakan Trunojoyo.

Tapi, semua orang mesti memahami semua itu sebagai kewajaran yang harus diterima sebagai nasib. Setidaknya demikian agama mengajarkan kesabaran atas nasib buruk yang menimpa. Anak muda itu, suami yang dicintai anaknya, tunduk terdiam dalam balutan yang ragu, antara menerima dan menolak takdir kematian yang menunggu. Tubuhnya kaku menahan takdir yang menimpanya, gemetar karena mencoba melawan.

“Bukankah saya seharusnya menerima jabatan sebagai senopati agung?î

“Tidak, anakku, kau harus menerima takdirmu yang lebih baik. Sebagai seorang syuhada.”

Advertisements