Cerpen Dody Wardy Manalu (Padang Ekspres, 12 Mei 2019)

Kakek Jumadi ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Kakek Jumadi ilustrasi Orta/Padang Ekspres

TIDAK ada lebih menyakitkan dari pada menahan rindu. Rindu telah diperam bertahun-tahun tidak juga terwujut. Lima tahun Pak Jumadi hidup dalam kesendirian. Terbersit iri melihat para orangtua berkumpul dengan anak, menantu, dan cucu mereka saat lebaran tiba. Pak Jumadi tidak bisa seperti mereka.

Lima tahun silam adalah hari terakhir Kakek Jumadi bertemu anaknya, Karjo. Ia luar biasa bahagia melihat Karjo balik ke kampung. Ditambah istri Karjo sedang mengandung anak pertama, sekaligus cucu pertama buat Kakek Jumadi. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Di malam takbiran, saat warga berbondong-bondong kompoi di jalanan, terjadi pertengkaran hebat antara Kakek Jumadi dengan Karjo.

“Aku akan membunuhmu. Dasar anak tidak tahu diuntung.” teriak Kakek Jumadi sembari mengejar Karjo. Di tangannya terhunus golok. Maritem, isteri Kakek Jumadi menangis di pintu rumah tidak mampu melerai.

“Aku tidak akan pernah balik ke rumah ini.”

Karjo dan isterinya pergi malam itu juga. Ini tahun ke lima setelah peristiwa itu. Kakek Jumadi selalu bungkam setiap ditanya apa yang terjadi antara ia dengan Karjo. Ada yang bilang, Kakek Jumadi ingin menggauli menantu sendiri sehingga Karjo meradang. Kabar lain berhembus, ternyata Kakek Jumadi semasa muda seorang pembunuh bayaran. Entah kenapa, tiba-tiba keinginan untuk membunuh kembali muncul dan ingin melampiaskan pada anak sendiri.

Satu tahun setelah pertengkaran itu, Maritem meninggal. Karjo tidak pulang meski sanak famili mengabarkan kematian ibunya. Bagi Kakek Jumadi, Karjo sudah mati. Kini, Kakek Jumadi benar-benar sendirian. Ia bagai pohon lapuk sebentar lagi tumbang. Tenaganya kian hari kian menurun. Kebunnya tidak seluas dulu. Sebagian lahan dibiarkan ditumbuhi belukar. Cerita mengatakan Kakek Jumadi seorang membunuh membuat banyak warga menjauhinya. Bahkan kisah itu menjadi cerita sehari-hari para ibu untuk menakuti anaknya bila tidak mau makan atau tidur siang.

“Habiskan makanannya. Kamu tidak akan kuat berlari bila Kakek Jumadi mengejarmu. Kakek Jumadi suka membunuh anak-anak.”

“Bila tidak mau tidur siang, ibu akan memberikan kamu pada Kakek Jumadi.”

Advertisements