Cerpen AS Noor (Denpost, 12 Mei 2019)

Boneka Kedua ilustrasi Boneka Kedua ilustrasi Mustapa - Denpostw.jpg
Boneka Kedua ilustrasi Boneka Kedua ilustrasi Mustapa/Denpost 

HARI itu saya berhasil membuat dua boneka. Itu adalah kegilaan pertama dan terakhir dalam hidup saya. Namun dua boneka itu bukanlah karya seni. Sama sekali bukan. Tetapi karya iblis yang berada dalam tubuh saya. Dan iblislah yang membuat saya jadi seperti ini.

Kalian tahu, selepas membuat boneka pertama, iblis belum mau pergi dari tubuh saya, dan malah menyuruh saya untuk membuat boneka kedua. “Kalau kau tidak melakukannya, hidupmu akan kesepian dengan beban penderitaan berat. Percayalah, kau tidak akan sanggup menanggungnya,” begitu bisik iblis di telinga saya, diulang-ulang. Saya, dalam kondisi tak berdaya, tertekan, pikiran kacau-balau, akhirnya kembali terpengaruh. Saya merasa tidak ada jalan lain lagi selain mengikuti bisikan iblis itu. Namun, sebelum membuat boneka kedua, saya terdorong untuk menuliskan sebuah kisah di komputer, dengan harapan nanti ada seseorang yang sudi membacanya. Kalian ingin tahu? Baiklah.

Begini kisahnya.

Saya bangun pukul tujuh lewat sedikit dan langsung nonton TV. Saya sama sekali tidak melihat sosok Sunyi, istri saya, dan tidak berhasrat memanggilnya, apalagi sampai mencarinya, meski sebenarnya saya butuh secangkir kopi. Sampai pukul delapan, saya masih di atas kasur dan masih nonton TV. Tombol-tombol remote control jadi korban kejahilan jemari saya. Channel TV terus berganti-ganti. Tetapi satu pun tidak ada yang mampu menarik perhatian mata saya. Sunyi belum juga muncul di dalam kamar, meski suara TV sudah saya nyaringkan. Saya tidak tahu dia berada di ruangan mana. Rumah saya cukup besar. Memiliki lima kamar tidur, tiga kamar mandi, dan satu dapur yang cukup luas. Meski, kenyataanya, cuma kami berdua penguninya ditambah satu pembantu.

Saya sengaja membuat dapur cukup luas. Biar Sunyi betah ketika memasak. Tetapi, sepanjang perjalanan pernikahan kami, dia tidak pernah memasak. “Memasak,” kata Sunyi, “bisa merusak kelembutan telapak tanganku, dan lagi pula sudah ada pembantu.” Dan kami sama-sama bekerja. Saya PNS dan dia karyawan bank yang sudah memiliki posisi strategis meski tebilang masih muda. Itu artinya, dia punya uang sendiri. Tentu saja gajinya di atas gaji saya yang hanya golongan III. Sebagai keryawan bank, tentu dia selalu berusaha menjaga penampilan. Biaya perawatan wajah dan tubuhnya mahal! Dia selalu ingin tampil mempesona di mata siapa saja. Tetapi tidak ketika dia ada di rumah. Tampilannya biasa saja.

Advertisements