Cerpen Bia R (Pikiran Rakyat, 12 Mei 2019)

Terbakar ilustrasi Adhimas Prasetyo - Pikiran Rakyatw.jpg
Terbakar ilustrasi Adhimas Prasetyo/Pikiran Rakyat

Pagi itu, di hari minggu yang teramat cerah, seorang lelaki muda menghampiri lapak penjual koran. Diambilnya dua koran nasional dari media berbeda dan satu koran lokal. Kemudian ia membayar koran-koran tersebut dengan selembar uang dua puluh ribuan. Saat penjual koran yang sudah aki-aki itu meraba saku celana komprangnya untuk mengambil kembalian, lelaki gondrong itu mencegahnya.

“Tidak usah, Pak. Kembaliannya buat Bapak saja,” katanya lembut. Kemudian ia berlalu dengan tiga koran yang di pegangnya.

Sang penjual koran menatapnya penuh takjub. Lelaki tua itu mengira jika lelaki tadi tidak bermaksud membaca koran. Ia hanya iba padanya yang sudah renta dan memaksakan diri berjualan koran untuk menyambung hidup.

Lelaki kurus itu berjalan ke arah taman kota. Sesampainya di sana, ia duduk di bangku taman, di bawah pohon ketapang yang rindang. Dibukanya koran itu, tepat di halaman rubrik sastra. Sorot matanya terlihat redup seketika saat tak didapatinya satu karya sastra pun. Ia sudah berulang kali membuka tiap halaman koran, barangkali rubrik sastra pindah halaman. Tetapi tak ditemukannya juga. Begitu pula dengan koran ke dua dan ke tiga.

Lelaki itu berlari dan menemui penjual koran. Hampir seluruh koran dari berbagai media yang dijual aki-aki itu ia ambil. Si penjual koran semakin yakin, pemuda gondrong itu memang ingin bersedekah padanya. Beberapa orang yang sedang membuka koran menatapnya heran. Tidak terkecuali kerumunan orang yang sedang memilih aksesoris di lapak yang ada di samping penjual koran.

Setelah membuka halaman demi halaman dari seluruh koran yang dibelinya itu, ia tidak menemukan satu pun cerita atau puisi di koran-koran itu. Bahkan opini dan esai pun tidak ada, setelah beberapa hari tak ada koran yang memuat opini, esai, bahkan tajuk. Ia kembali memeriksa tanggal terbit, dan matanya tidak salah melihat, mengeja, dan membaca. Memang benar hari minggu, pada tanggal, bulan, dan tahun yang sama dengan hari itu.

Lelaki itu merogoh ponsel pintar dari saku celana jinsnya yang sudah pudar dan robek jahitan sisi sakunya. Ia segera membuka media daring dan hasilnya sama seperti di koran. Tidak ada satu pun karya sastra yang muncul. Dari gawainya yang sudah mudah low batt itu, ia membuka media sosial dan buru-buru meluncur ke grup yang berisi info pemuatan cerpen. Di sana, ia mendapati pengumuman dari admin grup.

Advertisements