Cerpen Eko Darmoko (Koran Tempo, 11-12 Mei 2019)

Nördlingen ilustrasi Koran Tempow.jpg
Nördlingen ilustrasi Koran Tempo

“Aku hamil,” katanya. Mata hijaunya melotot.

Tatapan mata hijau itu sanggup menyihirku, membuat nyali kejantananku ciut. Mata hijau itu mengerikan, menyimpan jutaan misteri, namun sering kali menyejukkan hatiku.

Konon, hanya dua persen dari jumlah manusia di bumi ini yang memiliki mata hijau. Mereka yang bermata hijau umumnya adalah mereka yang memiliki darah Islandia, Belanda, Jerman, dan Celtic-Skotlandia.

“Lalu, aku harus berbuat apa, Fräulein?” Jawabku sambil menghindari tatapan matanya.

“Kau laki-laki! Harusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan.”

Ia mencekik leherku. Aku bingung. Cekikan ini bermaksud menghina, mengancam, atau bermaksud manja seperti ketika kami bercinta di ranjang. Namun, yang jelas, suaranya terdengar lantang. Orang-orang di sekeliling pelataran Istana Kokura bahkan mendengarnya. Pandang mereka berbondong-bondong menusuk ke arah kami yang sedang ngiyup di pondok teduh.

“Kata dokter di Kitakyushu, sudah dua bulan,” desisnya.

Kupandangi perutnya yang memang terlihat buncit. Semula kuanggap, perut buncit itu, adalah karena efek bobotnya yang naik. Maklum, selama di Jepang, nafsu makannya melonjak. Sedangkan aku; sushi dan aneka junk food tak sanggup merangsang hasrat mamaliaku.

Rintik gerimis sudah padam. Kami tinggalkan pondok teduh itu. Matahari, perlahan-lahan sinarnya mulai meringis. Langkah kami juga perlahan menggesek bumi.

“Lihatlah kaca-kaca gedung itu!” Ucapku sambil menunjuk kantor Wali Kota Kitakyushu. “Sungguh jernih. Langitnya juga. Sebentar lagi pasti ada pelangi.”

Ia menghentikan langkahnya. Mata hijaunya kembali menatapku, sangat tajam. Ia ingin melontarkan sebuah kalimat. Namun, akhirnya ia memilih membisu. Matanya membidik ke atas, agak lama.

“Benar! Pelangi kini benar-benar lahir di langit Kitakyushu,” ucapnya datar.

Kulihat ke atas, pelangi itu melengkung-melangkahi Istana Kokura dan kantor Wali Kota Kitakyushu yang berdampingan. Bagiku, di mana saja pelangi tetaplah pelangi. Sama saja. Tak ada yang istimewa.

Advertisements