Cerpen Gusni Hutabarat (Analisa, 08 Mei 2019)

Air Mata Kehidupan ilustrasi Alwi - Analisaw.jpg
Air Mata Kehidupan ilustrasi Alwi/Analisa 

LUKA ini  masih berbekas di pikiran, susah dan senang itu hal biasa dilewati seseorang. Masa lalu adalah sejarah kehidupan. Aku terlahir dari keturunan keluarga sederhana, tentu saja kehidupan sangat pahit. Tapi, nekat yang kumimpikan sangat tinggi. Aku tau, ini sangat berat bagi orangtuaku. Untuk kebutuhan sehari-hari terkadang tidak tercukupi, saudaraku masih duduk di sekolah dasar. Jarak kami sangat berbeda. Ibu pernah ditinggalkan oleh ayah, akhirnya ibu menikah lagi dengan ayah tiri. Tidak sepantasnya aku menggapai keinginan ini. Memang ini sebuah kebanggaan.

 

Selamat anda lulus SNMPTN

Di Universitas Negeri Medan

Jurusan: Sastra Indonesia

 

Aku masih ingat betul kejadian ini semua. Orangtua dan keluarga memang bahagia. Harapan masih ada di tangan. Beda suasana hari, beda juga suasana hati seseorang. Kelulusan SNMPTN hanya simbol kebahagian saja. Yang dulunya ayah setuju melanjut, sekarang berubah. Awalnya Paman mendukung untuk membantu, tapi itu semua hanya kepalsuan. Aku tidak mengerti maksud permainan ini. Aku berlari ke belakang rumah meratapi begitu sakitnya hidup ini. Dengan doa selalu kuuringi langkah. Semua berkas perkuliahan kuurus dengan mandiri tanpa campur tangan orangtua. Tibalah saatnya aku akan berangkat ke Medan, kebohongan besar kepada ayah berpura-pura merantau ke Pematang Siantar. Hanya ibu tempat curahan hati, rahasia ini kami simpan berdua saja. Demi menutupi konflik antara ibu dengan ayah. Dengan air mata aku meninggalkan kampung halaman, orangtua, saudara, dan semua keluarga. Batinku sangat terpuruk, melihat ayah termakan kebohongan. Demi cita-cita aku harus menggapainya untuk membahagiakan mereka. Sepanjang perjalanan ekspresi wajah bahagia di depan teman-teman untuk menutupi semuanya. Aku mencuri tempat kesunyian meluapkan emosi dengan air mata.

Beradaptasi dengan geografis di kota Medan, sangatlah sulit untuk memulainya. Untuk sementara waktu aku tinggal di rumah nenek. Sangatlah bersyukur pengeluaran sehari-hari berkurang. Kubalas dengan tenaga membantu pekerjaan rumah, akhinya sampai sekarang aku dibolehkan tinggal di rumahnya. Segala urusan kampus bagi mahasiswa baru kakeklah yang menemani.

Advertisements