Saya tak akan membohongi diri sendiri bahwa saya juga telah kehilangan kesabaran. Maka tanpa banyak berpikir lagi, saya tinggalkan mobil. Berjalan ke mana saja, tak jelas ke mana tujuannya. Sedangkan di semua perbatasan telah resmi menjadi jalan buntu. Dan itu berarti sudah bisa disimpulkan bahwa saya benar-benar terjebak di kota ini, bersama orang-orang yang juga mengalami nasib yang sama.

Dan saya rasa, selama waktu tetap bergerak, semua orang akan belajar bagaimana caranya menjadi sendirian dan tak akan ada lagi peristiwa tentang meninggalkan atau ditinggalkan.

***

Untung saja saya sudah menjadi sendirian sebelum keajaiban ini muncul. Jadi saya tak perlu merasakan apa itu kehilangan. Saya hanya butuh bergerak. Berpindah dari suasana ke suasana. Sempat saya menghitung pergerakan matahari setiap harinya. Dan ternyata sudah tujuh hari saya mengembara. Selama tujuh hari ini saya belum tidur sama sekali. Entahlah saya juga tidak tahu.

Yang pasti, saya hanya beristirahat sebentar, melamun, kemudian berjalan lagi. Melewati perkampungan, melewati persawahan, melewati sungai, mendaki pegunungan, menuruni bukit, buang air kecil dan besar di sembarang tempat, makan apa saja yang bisa dimakan, minum apa saja yang bisa menghilangkan haus, terus seperti itu sampai akhirnya saya tiba di perbatasan antara Bondowoso- Banyuwangi.

Hari sudah sore ketika saya berada di puncak tertinggi pegunungan ini. Saya perhatikan suasana sekitar. Sunyi dan benar-benar sepi. Sejenak saya merasa tenang ketika menghirup sejuk dedaunan yang bercampur dengan cahaya senja kemerah-merahan yang memenuhi seluruh ruang di mata saya. Sungguh indah. Sungguh menghibur. Dan ketenangan ini membuat saya sepenuhnya tak peduli, apakah macet itu masih berlangsung atau keadaan telah kembali seperti semula.

“Sudah siap?”

Tiba-tiba suara berat dari belakang memecah lamunan saya. Tentu saja saya kaget. Saya menoleh.Astaga! Seorang pria dengan jubah hitam perlahan menghampiri saya. Astaga! Wajahnya bercahaya. Belum selesai menyudahi rasa kaget yang saya alami, dengan cepat ia menggamit pundak saya kemudian membentangkan sepasang sayap dan membawa saya terbang. Apakah orang ini gila? Mana mungkin orang gila punya sayap?

Advertisements