Cerpen Alif Febriyantoro (Rakyat Sultra, 06 Mei 2019)

Macet ilustrasi Istimewa.jpg
Macet ilustrasi Istimewa 

Sudah lebih dari tujuh jam saya berada di kawasan perbatasan antara Bondowoso-Situbondo. Senja memang telah mengusir biru, tetapi senja tak mampu mengusir seluruh kendaraan yang mendadak tak bergerak. Berbagai jenis kendaraan ada di sini; motor, mobil, pikap, bus antarkota, truk kecil, truk pengangkut tebu, truk gandeng, truk kontainer, truk Pertamina, bahkan ambulans dan mobil kebakaran pun tak bisa lewat, semua terhambat. Semua yang hidup ada di sini; janin, bayi, balita, anak kecil, bocah ingusan, remaja, sepasang kekasih, suami-istri, waria, om-om, tante-tante, duda, janda, kakek-kakek, nenek-nenek, sepasang kakek-nenek. Semua golongan pun ada di sini; mahasiswa, pengangguran, pebisnis, polisi, politikus, tentara, petani, wartawan, kiai, ustaz, ustazah, pencopet, jambret, preman, mantan buronan, semua mengalami nasib yang sama. Semuanya setara. Dan dalam kemacetan ini, kaya dan miskin akhirnya dilahirkan kembali menjadi saudara kembar.

Lalu, bagaimana jika kemacetan ini berlangsung seumur hidup?

Semua orang kebingungan dan bertanya-tanya, mau lewat mana? Di sebelah kiri ada sebuah jalan yang nantinya akan melintasi kawasan perkampungan. Tetapi jalan itu pun sudah penuh dengan kendaraan. Sedangkan di sebelah kanan terbentang sungai dan jurang. Lagi-lagi pertanyaannya tetap sama, mau lewat mana? Sepertinya memang tak ada kendaraan yang bisa lewat kecuali harus berjalan kaki. Tetapi siapa yang mau merelakan kendaraannya tertinggal di jalanan? Tak ada. Karena mungkin semua orang masih mempunyai pemikiran yang sama, bahwa kemacetan ini pasti akan berlalu, entah sampai kapan.

Suara klakson dari berbagai jenis kendaraan bersahut-sahutan. Melayang-layang bersama angin. Mendekap dan memekakkan telinga. Sungguh semua orang telah menjadi gila. Semua depresi. Bayi-bayi menangis, anak-anak menjerit dan mengeluh. Sepasang kekasih bertengkar hebat. Sepasang kakek-nenek sepertinya ingin mengakhiri kehidupan karena sudah merasa bosan dengan semua yang bernama cinta.

“Oek…oek…!”

“Ma, kapan sampai rumah? Terus nanti mau tidur di mana?”

“Pa, Raina kebelet pipis! Rumah masih jauh, ya? Uh….”

Advertisements