Cerpen Beni Setia (Radar Selatan, 06 Mei 2019)

Crown Supermall ilustrasi Muhary Wahyu Nurba - Radar Selatanw.jpg
Crown Supermall ilustrasi Muhary Wahyu Nurba/Radar Selatan 

kita butuh hutan kota

dan tak butuh supermall

KAMPUNG Gendingan itu ingatan masa SMA—sepanjang tiga tahun aku selalu mampir, bahkan tidur di rumah Rudolf, sahabat SMA, bahkan berhari tak pernah pulang bila saat Liburan tiba. Ketika aku lulus sekolah dan kuliali dikota lain, aku sering lebih memilih berlibur di rumah Rudolf, bagai setelah kos aku libur untuk kos lagi. Bahkan kakakku sengaja menjemput aku di rumah Rudolf ketika kami berombongan mengantarkan kakak sulung untuk menika—dan tentu aku mengajak Rudolf, dan mereka tidak marah, malah senang ketika aku mengajaknya.

Ketika smester V Kampung Gendingan digusur, dianggap kampung liar dan menempati tanah Negara, yang harus dusir, karena tanah itu dibeli ruislag oleh PT Prabu Artakusuma—yang kemudian jadi kompeks pertokoan Crown SupennalL lengkap dengan kompleks bioskop, pusat kuliner, dan bar serta karaoke di dua lantai paling atas.

***

KAMI protes—melawan, dengan demo, dan bahkan berkelahi dengan aparat dan preman bayaran. Kami kalah—dikalahkan. Rudolf meninggal, seperti juga Ahmad dan Arief,—yang lainnya banyak yang cacat permanen, atau dihukum percobaan—, tanpa pernah jelas dibunuh siapa. Aku luka parah, ketika sembuh dihukum percobaan. Kami kalah—Kampung Gendingan digusur.

Semua buyar, tunggang langgang— pergi entah ke mana. Menelan tangis, serta melengos meninggalkan kota, dan serentak tak ingin kembali ke kota— kembali ke dalam kenangan. Menyusuri kemanisan kebersamaan di Kampung Gendingan.

***

AKU balik ke kampus setelah cuti selama satu tahun. Berkonsentrasi untuk melupakan Kampung Gendingan dan Rudolf— dan segera lulus serta mengambil kerja di luar pulau. Seperti mereka, aku juga bersumpah tak akan pulang—bahkan enggan menjenguk bekas Kampung Gendingan, bahkan sekedar melihat dari jauh—bekas Kampung Gendingan, yang kini menjadi Crown Supermall. Lebih dan itu aku selalu menganggap itu kuburan Rudolf, bahkan lading pembantaian. Bahkan, sampai kini, aku berilusi akan meledakkannya—dengan memakai drone. Memang.

***

Advertisements