Cerpen Risda Nur Widia (Kedaulatan Rakyat, 05 Mei 2019)

Ziarah ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyatw
Ziarah ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

ADA yang berbeda ketika menjelang Ramadan di desa Gesikan, Pendowoharjo. Bagi kampung lain bila menghadapi hari-hari sebelum puasa akan digunakan oleh penduduknya untuk nyadran ke makam. Namun bagi desa Gesikan hal itu tak dilakukan. Menjelang Ramadan, mereka lebih memilih untuk mengunjungi sungai besar bernama: Kali Putih.

Penamaan sungai ini berasal dari mitos lokal yang tumbuh di masyarakat. Sungai itu diberi nama ëKali Putihí karena penduduk percaya, ada seekor naga putih yang hidup di dasarnya. Keyakinan warga itu pun sudah melekat erat sejak nenek moyang. Dan, warga mengimani nama naga itu akan memberikan berkah serta perlindungan bagi kampung.

Begitulah. Beberapa hari sebelum bulan puasa, warga Gesikan lebih banyak berkunjung ke Kali Putih. Di sana mereka bunga atau mengirim doa-doa layaknya orang yang sedang berziarah. Mereka percaya dengan melakukannya, arwah keluarga yang sudah meninggal dapat merasa nyaman di Surga.

Dan, karena merasa penasaran dengan segala tradisi aneh penduduk desa dan Ibu, aku pernah bertanya: “Mengapa bisa demikian, Ibu?”

Ibu yang sejak kecil merawatku sendiri, karena Bapak telah meninggal bersama kapal yang membawanya ke Malaysia untuk bekerja, menjelaskan: “Naga Putih adalah kendaraan bagi orang-orang mati. Naga Putih akan menyampaikan semua doa kita.”

Ibu memang mengikuti apa yang di lakukan oleh kebanyakan warga. Ibu meyakini prihal cerita mengenai seekor naga dan berkat suci yang ada di sungai itu. Ibu acap mendatangi Kali Putih beberapa hari sebelum bulan suci puasa tiba.

Aku mengangguk mendengar cerita Ibu itu. Begitulah. Hingga kini bahkan Ibu masih melakukan hal yang sama bila Ramadan tiba. Ibu untaikan doa-doa kepada Bapak yang belum pernah kulihat sejak kecil.

***

Dua hari sebelum Ramdhan tahun ini, aku dan Ibu kembali melakukan tradisi itu. Kami mendatangi Kali Putih untuk mengirim doa di tepinya. Di sana kami menemui banyak warga yang keluarganya menghilang dan tidak memiliki makam yang jelas di dunia ini. Mereka tampak menebar menebar bunga dan mengirimkan doa-doa kepada orang-orang yang tercinta. Namun, mereka tampak terpekur dengan wajah yang sulit aku jelaskan.

Advertisements