Cerpen A Warits Rovi (Kompas, 05 Mei 2019)

Ulat Terakhir di Kamar Nenek ilustrasi I Gde Ngurah Panji - Kompasw.jpg
Ulat Terakhir di Kamar Nenek ilustrasi I Gde Ngurah Panji/Kompas 

Saat pintu kamar dibuka dengan sekali dorong, setelah daun pintu itu menyentuh tembok. seekor ulat akan terlihat, diam dengan sedikit meliukkan tubuhnya yang berwarna hitam bergaris kuning memanjang dari ekor ke kepala, bagian bawahnya—yang mungkin adalah kaki—bergigir dan menempel rekat pada tembok, tepat di samping pigura potret almarhum kakek, yang mulai lusuh berparam debu.

Tahinya bulat hitam berbutir-butir menyebar di lantai, di atas bantal, di tumpukan buku, beberapa tumpukan di antaranya yang sudah kering, mengeras mirip biji pepaya berserakan di kaki dipan.

Ulat itu tiba-tiba tandang ke kamar ini sekitar seminggu yang lalu. Mulanya, aku menemukannya berdiam di daun jendela, seperti tengah kelelahan usai perjalanan panjang, dari tengah ladang ke rumah ini. Aku mengira, ia masuk ke kamar ini melalui celah daun jendela yang renggang saat terbuka.

“Hii!”

Aku jijik. Tak sabar tanganku ingin lekas meraih sapu lidi untuk menumpas habis ulat menjijikkan itu. Tapi aku teringat wasiat nenek, pada menit-menit akhir sebelum meninggal, agar aku tidak membunuh ulat apa pun yang masuk ke kamar ini.

“Cukup dosa pembunuh ulat tertimpa padaku, jangan kepadamu,” ucap nenek saat itu, mengusap rambutku, matanya nanar dan tangannya gemetar.

Akhirnya aku membiarkan semua ulat yang masuk ke kamar ini bebas menjalani hidupnya suka-suka. Sudah ada banyak ulat beragam bentuk dan warna yang masuk ke kamar ini. Semuanya sangat menjijikkan. Dan aku membiarkannya hidup atas nama menghargai wasiat nenek.

Di kamar ini, ulat-ulat itu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Bertahi sesukanya, bahkan ada yang dengan bebas merontokkan bulu-bulunya yang gatal ke baju, selimut dan seprei.

“Hii!”

Ingin sekali aku merotannya hingga tubuhnya yang lembek itu meletus dan mengeluarkan cairan hijau kental, seperti yang dilakukan nenek saat membunuh ulat semasih ia hidup. Tapi, lagi-lagi wasiat neneklah yang membuat keinginanku terkendali, hingga ulat tetap hidup dan menghilang dengan sendirinya.

Advertisements