Cerpen Diana Wulan Ningrum (Radar Banyuwangi, 05 Mei 2019)

Tuan Pengemis ilustrasi Radar Banyuwangiw
Tuan Pengemis ilustrasi Radar Banyuwangi

“BERITA besar selalu datang kala mata lelah memandang keadaan”. Aku tidak pernah mengerti kalimat itu. Kakak perempuanku selalu mengatakannya ketika mendapat kabar luar biasa di kota kami, entah itu dari televisi, media massa, atau entah apa, aku tak tau namanya. Dia mulai mengatakan itu saat aku berumur delapan tahun. Dan sekarang umurku sudah dua belas tahun, tetap saja tak paham artinya.

Aku tinggal di kota besar yang megah dan elegan. Terkenal sampai ke penjuru kota lainnya. Hari ini kotaku dirundung kebahagiaan luar biasa. Di pusat kota, yang penuh dengan gedung-gedung pencakar langit, kios para pedagang besar dan fasilitas kota yang memadai, dipasang sebuah televisi yang lumayan besar, jaraknya agak jauh dari sebuah perusahaan. Aku tidak tau bagaimana mereka akan menjaga televisi jumbo itu dari cuaca yang tidak menentu.

Kakakku bilang, kota kami sangat sibuk, sehingga memungkinkan banyak orang yang sibuk sendiri, tidak mau berkomunikasi dengan orang sekitar. Sehingga kalau dipasang televisi di tengah kota dan disiarkan berita-berita penting, maka akan banyak yang melihat dan saling memberikan opini satu sama lain.

“Tapi sebenarnya aku tidak suka dengan ide pemerintah, Tom. Hal ini akan menyebabkan kemacetan kalau banyak orang yang berhenti tiba-tiba untuk melihat berita karena televisi itu akan menarik banyak orang,” ucap kakak saat mengajakku ke sebuah kafe dekat pemasangan televisi besar itu. Banyak sekali orang yang mengerjakannya.

Aku melihatnya sekilas. “Jadi, televisi itu hanya untuk menyebarkan berita? Tidak ada kartun atau film-film fantasi?”

“Mungkin tidak, tidak sama sekali. Lagi pula untuk apa?” Kakak meneguk secangkir kopi panasnya. Aku mengangguk. Kami diam beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Seperti biasa, kota ini mengundang berita besar saat mata lelah memandang keadaan.” Kakak tertawa. Dia mengatakan kalimat itu lagi. Lalu menghabiskan kopinya yang tersisa sedikit.

Advertisements