Cerpen Dian Nangin (Analisa, 05 Mei 2019)

Tersesat ilustrasi Renjaya Siahaan - Analisaw.jpg
Tersesat ilustrasi Renjaya Siahaan/Analisa 

SATU per satu cahaya menerobos rimbun dedaunan perlahan menghilang. Hanya tersisa keremangan yang memaksa mataku bekerja lebih awas. Ini berarti matahari sudah semakin jauh bergeser ke arah barat. Ini juga berarti aku harus semakin bergegas sebelum hutan belantara ini diselimuti gelap. Aku tengah tersesat dalam sebuah perjalanan yang tak kuingat dari mana dan kapan bermula. Dari pada menguras otak dan tenaga untuk memikirkan asal muasal perjalanan ini, lebih baik aku berjuang menemukan jalan keluar.

Sesekali pekik-pekik manusia terdengar sayup, sahut menyahut. Aku berteriak memberitahu keberadaanku, berharap ada yang berbaik hati mencari dan menolongku sebelum malam turun. Teriakanku hanya disambut gema pekik-pekik lain tanpa ada yang benar-benar datang menolong.

Bersama rasa gentar yang merambati hati, aku menyadari tak akan ada seorang pun yang mau mengumpankan diri pada alam liar di waktu yang tidak seharusnya seperti sekarang. Apalagi besar kemungkinan banyak hewan buas yang berkeliaran di sini. Membuang waktu untuk hal lain selain mencari jalan pulang adalah tindakan bodoh. Yang ada dalam pikiran setiap orang pastilah kembali ke rumah, ke tempat hangat dan nyaman untuk beristirahat.

Kudongakkan kepala. Biru langit perlahan menua di antara celah-celah dedaunan yang sakin lebatnya nyaris menutupi pandangan. Aku tak punya penunjuk waktu dan tak tampak adanya penunjuk jalan. Aku buta arah dan hanya bisa mengandalkan doa sebagai satu-satunya kompas paling akurat. Berharap barisan munajat kacau balau yang kupanjatkan mengarahkanku pada jalur yang benar.

Di saat seperti inilah baru kusadari, kosa kataku yang pantas dirangkai menjadi doa begitu minim. Apa boleh buat, aku tak lagi menghitung berapa tahun sudah kaki ini tak menginjak rumah ibadah. Kupikir angka-angkanya sudah melebihi jumlah jemari kedua tangan.

Kurapalkan saja kata-kata yang kukira benar dan indah didengar Tuhan. Semakin lama aku berjalan, aku mengusahakan doaku bertambah panjang. Bukankah Tuhan akan mendengar doa yang panjang dan spesifik? Memang benar bahwa Dia Mahatahu, namun kupikir tak ada salahnya memberitahu dengan detail apa yang sekarang benar-benar kubutuhkan.

Advertisements