Cerpen Mahira (Haluan, 05 Mei 2019)

Setelah Bong Selesai Ujian ilustrasi Istimewaw.jpg
Setelah Bong Selesai Ujian ilustrasi Istimewa

Aku tak habis pikir, bagaimana mungkin bisa terpancing marah membabi buta kepada anak didikku sendiri. Aku digaji untuk membuatnya jadi baik, bukan untuk membalaskan dendam atas perangainya yang tak baik. Tapi, inilah yang terjadi padaku, setelah belasan tahun berhadapan dengan anak-anak murid, Bong menyulut kemarahan setelah akumulasi peristiwa demi peristiwa yang tersuguh di ruangan berukuran tujuh kali delapan meter itu.

Dua hari yang lalu, aku menyempatkan diri bertamu ke rumah Alin. Kepada teman yang telah kuanggap saudara itu, sebelumnya pernah kusampaikan bahwa ada beberapa hal janggal yang membuat hari-hariku terganggu. Bagai bisul yang bersemayam di wajah dan mengganggu penampilan, sakitnya menyiksa lahir batin. Namun, aku betul-betul tak kuasa melenyapkannya dengan cepat. Sebab, begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk mengakhirinya.

“Oh, sahabatku, anggap saja dia seperti angin lalu. Atau anggap seperti kambing pemakan bunga depan kantor, selesai, bukan?”

Temanku yang baik itu memberi nasihat yang sungguh di luar dugaan. Mana mungkin dia kuanggap angin? Aku melihatnya setiap hari, bisa disentuh. Bahkan sekali waktu pernah kuremukkan tangannya.

Atau menganggapnya sebagai kambing, tidak bisa. Aku tidak bisa bicara dengan kambing. Kambing tidak akan membalas ucapanku. Tapi dia, dia membalas setiap ucapan dan tindakanku. Dia tidak bisa disamakan dengan kambing, terlalu enteng, kawan.

Selanjutnya, kepada seorang teman lain yang telah kuanggap kakak, kukatakan padanya bahwa ini adalah tantangan terbesarku. Jika aku tidak bisa menaklukkannya, berarti tidak ada gunanya aku pelajari teori-teori yang ada di buku yang pernah kubaca di perpustakaan, di rumah, di teras, di toko buku.

Kemudian beliau berkata, “Duhai, adikkku. Tidak ada masalah di atas dunia ini yang tidak selesai. Tinggal kau temui orang tuanya. Katakan kalau kau ingin sekali menemukan solusi untuk anak mereka. Mudah, bukan?”

Terima kasih teman, karena itu menjadi sesatu yang pernah kupikirkan dan kubayangkan untuk segera melaksanakannya. Tapi, ukh…nihil.

Advertisements