Cerpen Adam Yudhistira (Tribun Jabar, 05 Mei 2019)

Sepucuk Revolver dan Nasihat Albert Einstein ilustrasi Tribun Jabarw.jpg
Sepucuk Revolver dan Nasihat Albert Einstein ilustrasi Tribun Jabar

PAGI ini Jim bangun sambil menggigit-gigit bibir bawahnya dan hampir-hampir menyadari bahwa untuk pertama kalinya, seumur hidup, ia betul-betul merasa sangat sedih dan ingin lekas mati. Ia duduk di atas ranjang sambil memeluk lutut. Di sampingnya tergeletak sepucuk revolver. Matanya menerawang kosong ke langit yang tampak suram dan basah. Awan-awan kelabu itu menjatuhkan miliaran butir air. Titik-titiknya satu per satu mengetuk kaca jendela, menghasilkan suara yang mirip intro sebuah lagu.

“Waktu yang sempurna untuk mati,” bisik Jim setengah menggerutu. “Setelah ini, semuanya akan selesai. Tamat.”

Konon, kesedihan yang disebabkan patah hati hebat memang acapkali menumpulkan akal sehat. Hal itulah yang mungkin sedang terjadi kepada Jim. Sejak perpisahannya dengan Eva sebulan yang lalu, ia menjauh dari siapa pun. Selama satu minggu, ia tidak pernah keluar rumah. Waktunya banyak terbuang dengan melamun di kamar saja. Tanpa teman bicara, tanpa siapa-siapa.

Menurutnya, teman, sahabat, bahkan keluarga adalah orang-orang paling sok bijaksana dan paling sok tahu, jika ia menceritakan semuanya. Maka dari itu, ia memilih diam. Menyendiri dan mempertimbangkan cara paling cepat untuk menyudahi penderitaannya dengan bunuh diri. Ia muak dengan hidupnya. Patah hati telah mengajarinya cara terbaik untuk membenci dirinya sendiri.

Tentu saja, dengan bunuh diri, Jim bisa menyingkirkan suara-suara kurang ajar yang diletupkan orang-orang terdekatnya. Suara-suara yang bukannya membantu suasana hatinya menjadi lebih baik, malah berpotensi memperburuk. Tetapi sialnya, ia tak bisa menyingkirkan suara-suara lain yang datang dari sesuatu yang tak pernah ia sangka-sangka sebelumnya. Suara dari poster Albert Einstein yang tergantung di dinding kamarnya.

Poster wama shepia itu memuat wajah dan setengah badan milik lelaki tua yang sedang menjulurkan lidah. Dalam pikirannya, gambaran lelaki tua itu mengejeknya minta ampun. Ini sesuatu yang baru, konyol, dan sekaligus mengerikan. Di dalam pikiran siapa pun, hal seperti ini sulit sekali diterima. Tetapi di dalam pikiran Jim, semua itu terasa wajar belaka. Ia justru mendapati kenyataan bahwa lelaki tua berambut jingkrak itu bukan saja mampu berbicara, tetapi sesekali juga mampu menertawakannya. Dan dari tempat duduknya sekarang, Jim mendengarkan lelaki tua itu mengolok-oloknya.

Advertisements