Cerpen Yuditeha (Solo Pos, 05 Mei 2019)

Sejarah Nyeri ilustrasi Solo Posw.jpg
Sejarah Nyeri ilustrasi Solo Pos 

Sejak aku kecil ibu sudah bilang aku bukan anak kandungnya. Ibu melakukan hal itu bukan karena tidak menyayangiku, tetapi justru karena cinta ibu terhadapku telah mendarah daging. Menurut ibu, sepahit apa pun kejujuran, tetap akan membawa pencerahan. Begitu sebaliknya, sehebat apa pun kebohongan, tetap akan menghasilkan kemuraman. Meski begitu, pada saat ibu menyampaikan pengertian-pengertiannya dulu, tentu saja aku tidak langsung memahaminya.

Kapasitas pikiran dan perasaanku waktu itu belum bisa mencerna sepenuhnya, bahkan pada saat pertama kali ibu menyertakan bukti dokumen, yang menerangkan bahwa aku bukan anak kandungnya pun tak juga benar-benar membuatku terguncang. Mungkin karena aku melihat sikap ibu yang tenang-tenang saja saat menunjukkan surat akta kelahiran dan kartu keluarga itu. Aku menangkap sikap ibu mencerminkan anggapan bahwa hal itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Saat dewasa kini aku baru menyadari, ketidakpahamanku memetakan pemikiran dan perasaan pada saat itu karena aku belum mampu mengartikan lebih dalam apa yang disampaikan ibu. Aku baru bisa menangkap dari arti harafi ahnya saja, selaras dengan apa yang ibu bilang, bahwa ibu akan mengatakan segala sesuatu tentang diriku secara pelan-pelan, seiring dengan perkembangan usiaku.

Kini aku baru tahu, mengapa ibu mengatakan semuanya dengan cara pelanpelan. Ibu tidak ingin aku menderita batin mendalam dan berlarut-larut andai seluruh cerita mengenai diriku langsung disampaikan dengan cara tiba-tiba. Alasan ibu karena sebagian besar cerita tentang diriku berisi rasa nyeri. Sehingga ketika rasa nyeri itu dibeberkan perlahan dengan porsi sedikit-sedikit, berharap hal itu tidak akan sampai membuatku putus asa – alih-alih justru akan menjadiku terbiasa, sehingga tanpa kusadari sepenuhnya kenyerian itu seperti tidak terasa menyakitkan.

Menjelang lulus sekolah menengah, ibu mengatakan kepadaku bahwa sebenarnya  perempuan yang mengandungku dulu tidak menginginkan aku lahir. Kata ibu, pada kenyataannya kehadiranku di rahimnya adalah sebuah malapetaka bagi perempuan itu. Dan jika perempuan itu akhirnya berkenan mempertahankan hidupku sesungguhnya hal itu bukan perkara mudah. Satu-satunya alasan yang mendukung perempuan itu mempertahankanku karena di dalam sanubarinya tertanam sebuah pengertian bahwa mematikanku sama dengan membunuh kehidupan. Meski begitu, karena perempuan itu menyadari dirinya bukan manusia super lantas dengan berat hati mengatakan bahwa dirinya merasa tak mampu jika setelah melahirkanku tetap membiarkan diriku berada di sisinya. Itulah alasannya mengapa akhirnya diriku diadopsi oleh ibu.

Advertisements