Cerpen Umi Salamah (Padang Ekspres, 05 Mei 2019)

Replika Keluarga Bahagia ilustrasi Orta - Padang Ekspresw.jpg
Replika Keluarga Bahagia ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Sebelum replika keluarga bahagia yang kubuat dengan tanganku sendiri terwujud, Bapak telah menghancurkannya. Pecah dan berantakan menjadi berkeping-keping. Mewakilkan hatiku yang hancur. Jauh lebih hancur tatkala Bapak memasang wajah datar. Apakah ini adalah tanda bahwa tak akan ada keluarga bahagia dalam hidupku?

Sebelum Bapak menghancurkan replika keluarga bahagia yang ada di kamarku, Bapak tak pernah lagi bicara denganku. Segalanya terjadi sejak pekerjaan yang sesungguhnya kugeluti terungkap. Bapak seakan telah memutuskan rantai hubungan darah antara bapak dan anak. Kusadari ini murni kesalahanku.

Masihkah ada kata maaf untukku? Bukankah orangtua selalu memaafkan kesalahan anaknya? Kenapa Bapak belum juga memaafkanku? Paling tidak, ada tanda-tanda yang menjurus ke sana. Itu yang kuharapkan selama ini. Tapi kenyataannya tak demikian. Harus berapa lama lagi aku menunggu? Apakah dua belas tahun belum cukup?

Alarm yang ada di jam tanganku berbunyi. Sudah waktunya bagi Bapak makan dan minum obat. Aku mencari istriku yang berada di dapur. Dia tengah menyiapkan makanan dan obat untuk Bapak. Dia sudah hafal dengan jadwal makan dan minum obat Bapak. Melebihiku.

Istriku menemui Bapak di ruang keluarga. Bapak tengah duduk di kursi goyangnya. Tanpa penolakan, Bapak mau disuapi oleh istriku. Hingga tandas. Dadaku bergemuruh lega. Bapak masih mau makan. Aku sangat ingin berada di posisi istriku. Menyuapi Bapak dengan diiringi obrolan ringan. Sungguh aku telah lupa kapan menyuapi Bapak. Mungkin puluhan tahun yang lalu. Ketika aku masih menjadi bocah ingusan.

Aku sangat bersyukur, Bapak tak memperlakukan istri dan putraku seperti diriku. Bapak tak mau bicara dan menatapku. Walaupun Bapak tahu aku satu atap dengannya, baginya aku sudah mati. Mungkin.

Bapak menelan obatnya. Tentu dengan bantuan istriku. Wajah Bapak meringis sedikit. Mungkin merasa tak nyaman dengan bau obat. Aku tahu Bapak tak suka meminum obat. Sebelum Bapak sakit separah ini, dia jarang minum obat. Bahkan ketika sakit, Bapak lebih memilih minum jamu yang diracik sendiri oleh Mamak.

Advertisements